;

Penurunan Produksi Beras Dipicu Oleh Kekeringan

Lingkungan Hidup Yoga 17 Oct 2024 Kompas
Penurunan Produksi Beras Dipicu Oleh Kekeringan
Jawa Tengah disebut Badan Pusat Statistik menjadi salah satu daerah yang berpotensi mengalami penurunan produksi beras paling besar ketiga secara nasional sepanjang 2024. Petani menilai merosotnya produksi beras di Jateng terjadi karena kekeringan yang melanda daerah tersebut. Mengacu pada Kerangka Sampel Area (KSA) Padi, BPS memperkirakan total produksi beras nasional pada Januari-Desember 2024 sebesar 30,34 juta ton. Volume produksi beras itu turun 760.000 ton atau sekitar 2,43 persen dibandingkan dengan realisasi produksi beras tahun lalu yang sebesar 31,1 juta ton (Kompas.id, 15/11/2024). Pelaksana Tugas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut, daerah dengan potensi penurunan produksi beras tertinggi adalah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, masing-masing 361.140 ton, 279.660 ton, dan 146.040 ton.

Selain itu, ada Banten dan Sumatera Barat yang turun masing-masing 92.340 ton dan 75.520 ton. Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jateng Hardiono mengatakan, penurunan produksi beras di wilayahnya terjadi akibat kekeringan yang melanda lahan-lahan pertanian. Kekeringan karena dampak kemarau itu bahkan disebut memicu gagal panen padi. ”Penurunan hasil panen padi karena kemarau ini rata-rata mencapai 50 persen. Bahkan, di beberapa wilayah sampai menyebabkan gagal panen,” kata Hardiono saat dihubungi Hardiono menyebut, normalnya, pada musim tanam pertama atau Oktober-Maret, rata-rata hasil panen padi mencapai 8-9 ton per hektar. Pada musim tanam kedua Maret-Agustus, hasil panen mencapai 6-7 ton per hektar.

Penurunan hasil produksi padi yang terjadi tahun ini, khususnya pada musim tanam kedua, menurut dia, merupakan yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun-tahun sebelumnya, penurunan produksi akibat kekeringan maksimal 30 persen dari hasil panen normal. Sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk membantu petani dalam menghadapi dampak kemarau. Di Jateng, misalnya, Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan 5.134 unit pompa air ke tiap-tiap kabupaten/kota. Namun, bantuan itu dinilai Hardiono tidak efektif. ”Yang dibutuhkan bukan pompa, melainkan air. Teman-teman kelompok tani itu sudah punya banyak pompa tetapi airnya yang tidak ada,” ujarnya. Hardiono menilai solusi yang tepat untuk mengatasi penurunan produksi beras akibat kemarau adalah dengan membuat sumur dalam. Cara itu efektif untuk mengatasi kekeringan di Sragen. (Yoga)
Tags :
#Beras #Pangan
Download Aplikasi Labirin :