Tulang Punggung Ketahanan Pangan adalah Peladang Tradisional
Program lumbung pangan pemerintah dinilai bukan jawaban atas keresahan ketahanan pangan Indonesia. Di Kalimantan Tengah, salah satu daerah yang diproyeksikan menjadi lumbung pangan, masyarakat masih begitu bergantung dengan metode ladang tradisional. RK Maladi (47),warga Desa Kubung, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, baru saja menanam padi lokal dengan cara tradisional di atas lahan seluas 1 hektar. Dia bisa mendapat 3 ton saat panen setahun sekali.Maladi yakin proses yang dalam bahasa Dayak disebut menugal, itu bisa memenuhi kebutuhan keluarganya hingga setahun ke depan. Menugal dilakukan setelah berbagai proses persiapan lahan dilakukan, yang diakhiri dengan membakar sisa tebasan tanaman. ”Semua warga di sini mata pencarian utamanya, ya, berladang ini, bahkan anak-anak kami bisa kuliah, ya, dari ladang seperti ini,” ungkap Maladi, Rabu (16/10/2024).
Maladi menyadari, di beberapa daerah ada kebijakan larangan membakar. Namun, kebijakan itu tidak memengaruh aktivitas mereka di ladang. ”Terus, (bila dilarang), kami mau makan apa? Bagaimana kami sekolahkan anak kalau enggak boleh berladang?” ungkapnya. Maladi hanya satu dari belasan ribu peladang tradisional di KalimantanTengah yang masih menjalankan tradisi berladang dari nenek moyang mereka. Selain menugal, ada juga warga yang masih menjalankan pola ladang berpindah atau gilir balik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng pada 2014 menyebut ada 12.905 rumah tangga di sekitar kawasan hutan menerapkan pola ladang berpindah. Namun, dalam Sensus Pertanian 2023, data peladang tradisional tidak ada lagi. Sebagai gantinya adalah petani milenial sebanyak 21.300 rumah tangga. BPS juga menghapus indikator produktivitas padi ladang sejak 2015. Tahun itu, pemerintah mengeluarkan larangan membakar.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Kalteng Sunarti mengungkapkan, lumbung pangan merupakan tawaran pemerintah menghadapi larangan membakar lahan. Program itu sebelumnya bernama food estate lalu kini menjadi optimasi lahan dan cetak sawah. Sunarti mengungkapkan, banyak kendala di lapangan, terutama soal penggarap lahan. Kalteng memiliki potensi lahan yang besar tetapi penggarap masih minim. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi soal Lumbung Pangan di Kalteng bersama Save Our Borneo (SOB). Direktur SOB Muhammad Habibi mengungkapkan, terkait proyek yang sudah berjalan perlu evaluasi, khususnya soal kondisi aktual di lapangan dan kesesuaian lahan. ”Saat ini luas lahan pangan kita terus menurun, lalu produksi padi petani terus turun. Bagaimana kondisi petani kita hari ini? Seberapa besar dukungan pemerintah kepada mereka, baik dukungan kebijakan, modal, sarana produksi, maupun akses ke pasar yang lebih baik,” kata Habibi. (Yoga)
Tags :
#PanganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023