;

Pamor Kecantikan Yang Berdampak Buruk

Pamor Kecantikan Yang Berdampak Buruk
Industri kecantikan tengah tumbuh subur. Banyak jenama baru, bahkan lokal, bermunculan. Mereka berlomba-lomba menawarkan produk dengan iklan yang memukau. Mereka tidak lagi hanya menyasar perempuan, tetapi juga laki-laki. Frekuensi acara-acara kecantikan yang kerap dihelat di kota-kota besar bertambah. Promosi produk dilakukan dalam skala besar. Toko-toko kosmetik juga melakukan promosi meski dengan skala lebih kecil. ”Event kecantikan itu lagi marak banget. Kalau dulu pada 2022-2023, dalam per setengah tahun di Yogyakarta biasanya ada satu event kecantikan. Masuk 2024, sepanjang Januari-Oktober ini saja sudah ada sekitar empat beauty event di Yogyakarta,” ujar Shella

Herviana (28), penyedia jasa titip (jastip) asal Yogyakarta, saat dihubungi, Jumat (11/10/2024). Animo masyarakat pun cukup tinggi setiap kali pameran produk kecantikan digelar di Yogyakarta. Konsumen yang menggunakan jastip yang ia tawarkan membeludak. Mereka berasal dari beragam daerah, bahkan hingga Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dalam sekali rangkaian festival kecantikan yang rerata diselenggarakan 2-4 hari, Shella bisa membeli 400-500 produk kecantikan demi para pelanggan jastipnya. Shella pun perlu membawa koper untuk menampung produk-produk kecantikan yang dibelinya. Untuk membeli barang-barang itu, ia bisa menggelontorkan dana hingga Rp 42 juta. Skincare dan lipstik menjadi produk yang paling banyak diminati. 

Kosmetik dalam negeri juga makin diminati. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya produk cosmeuticals. Cosmeuticals adalah produk yang memiliki efek kosmetik serta terapeutik yang berdampak positif bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Selain itu, inovasi produk dan desain kemasan juga semakin menarik sehingga meningkatkan penjualan. Sertifikat halal melengkapinya. Tren positif itu terjadi secara global. Dalam laporan McKinsey & Company berjudul ”The State of Fashion Beauty” pada Mei 2023, industri kecantikan diprediksi menghasilkan sekitar 460 miliar dollar AS atau sekitar Rp 7.180,14 triliun tahun ini. Adapun pada 2027, penjualan ritel produk kecantikan diproyeksikan tembus angka 580 miliar dollar AS atau Rp 9.053,22 triliun. (Yoga)
Download Aplikasi Labirin :