Prabowo Pertimbangkan Perubahan Asumsi Makro 2025
Presiden terpilih Prabowo Subianto membuka peluang untuk mengubah anggaran tahun pertamanya melalui skema Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2025. Ini dilakukan untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak yang berpotensi merangkak. Harga minyak mentah jenis Brent pada Kamis (3/10) pukul 20.25 berada pada level US$ 75,61 per barel, naik dibanding hari sebelumnya yang berada pada level US$ 74,67 per barel. Kenaikan harga minyak jenis ini, dipicu oleh konflik Timur Tengah dan terjadi sejak 27 September 2024 lalu. Meski memang, level harga Brent tersebut masih di bawah outlook harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) 2024 dan masih di bawah target dalam APBN 2025 masing-masing sebesar US$ 82 per barel. Meski begitu, Wakil Komandan Tim Kampanye Nasional Pemilih Muda (TKN Fanta) Prabowo-Gibran, Anggawira mengatakan, pemerintahan baru kemungkinan akan merevisi asumsi harga minyak dalam APBN 2025 melalui APBN-P dengan proyeksi lebih realistis. "Ini penting untuk menjaga akurasi perhitungan belanja negara, terutama terkait subsidi energi," kata Anggawira kepada KONTAN, kemarin. Jika konflik Timur Tengah terus bereskalasi, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi dari perkiraan. "Beberapa analis memperkirakan harga bisa mencapai US$ 85 hingga US$ 90 jika situasi memburuk dan pasokan terganggu lebih parah," tambahnya. Di sisi lain, pemerintahan Prabowo juga kemungkinan mengubah skema subsidi energi dari yang saat ini diterapkan menjadi pemberian bantuan langsung tunai (BLT). Anggawira bilang, hal ini akan dilakukan juga untuk meringankan beban APBN saat harga minyak naik.
Tak hanya itu, ada asumsi makro lainnya turut dipertimbangkan, yakni nilai tukar rupiah. Pasalnya, kurs terus bergerak melemah. Rupiah di pasar spot kemarin, berada level Rp 15.404 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,88% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.
Awalil Rizky, Ekonom Bright Institute menilai, harga minyak mentah dunia berpotensi meningkat. Namun, akan tergantung pada perkembangan perkembangan konflik Timur Tengah. Hitungannya, batas aman ICP yakni sebesar US$ 85 per barel.
Berdasarkan tabel Sensitivitas APBN 2024 terhadap Perubahan Asumsi Dasar Ekonomi Makro, setiap kenaikan ICP US$ per barel maka ada tambahan defisit anggaran sebesar Rp 6,5 triliun. Dengan demikian, jika ICP meningkat ke level US$ 65 per barel maka akan menambah defisit anggaran Rp 19,5 triliun.
Sementara berdasarkan tabel Sensitivitas APBN 2024, setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel maka akan menambah defisit Rp 6,9 triliun. Artinya, jika ICP tahun depan juga naik ke level US$ 85 per barel maka defisit anggaran 2025 akan bertambah Rp 20,7 triliun.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023