;

Penurunan ”BI Rate” Perlu Ditambah Insentif Fiskal

Ekonomi Yoga 19 Sep 2024 Kompas (H)
Penurunan
”BI Rate” Perlu Ditambah Insentif Fiskal
Penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia memberikan kelegaan, tetapi belum cukup menggerakkan perekonomian domestik. Perlu insentif fiskal untuk mendorong kelas menengah. Setelah menahan suku bunga acuannya sebesar 6,25 persen sejak April 2024, Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan menjadi 6 persen. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), Rabu (18/9/2024), mengumumkan pengurangan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 6,25 persen menjadi 6 persen. Ini menjadi pemangkasan per-
tama sejak 2021. Dalam periode Agustus 2022-September 2024, BI konsisten menaikkan suku bunga hingga 275 bps. 

Meski telah memberikan sedikit kelegaan, pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia tidak serta-merta menggerakkan perekonomian domestik yang tengah dilanda pelemahan, terutama kelas menengah. Belanja masyarakat, terutama kelas menengah, dapat didorong, antara lain, melalui insentif fiskal. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI sudah menakar probabilitas pemangkasan suku bunga acuan negara maju. sehingga tidak perlu lagi menunggu keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunganya. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah, terjaganya tingkat inflasi dalam sasaran target 1,5-3,5 persen, kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, serta pemberian ruang fiskal dan likuiditas perbankan juga mendorong BI menurunkan suku bunga acuannya menjadi 6 persen.

”Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan sesuai dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat, serta pertumbuhan ekonomi yang perlu terus didorong agar lebih tinggi,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual berpendapat, keputusan yang diambil olehBI, antara lain, mempertimbangkan deflasi selama empat bulan berturut-turut dan pelemahan yang terjadi di sektor riil. Namun, permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan semata-mata melalui kebijakan moneter. (Yoga)
Download Aplikasi Labirin :