;

Beras Murah Tinggal Sejarah

Beras Murah Tinggal Sejarah
REZIM beras murah yang telah berjalan selama beberapa dekade berakhir saat pemerintah mengubah kebijakan beras untuk rakyat miskin dan rakyat sejahtera (raskin dan rastra) menjadi bantuan pangan non-tunai (BPNT). Gonjang-ganjing harga beras lantas bergulir dari musim ke musim. Selama hampir dua tahun terakhir, harga beras tetap stabil tinggi.  Tingginya harga beras terlihat di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia. Per Senin, 9 September 2024, PIHPS mencatat harga beras kualitas bawah I sebesar Rp 12.450 per kilogram, kualitas medium I Rp 14.350 per kilogram, dan kualitas super I Rp 15.250 per kilogram.

Ada tiga fungsi utama yang melekat pada program beras raskin/rastra, yakni sebagai jaring pengaman sosial, instrumen stabilisasi harga, serta upaya pelindungan petani. Untuk fungsi jaringan pengaman sosial, setiap tahun pemerintah mengalokasikan sekitar 2,7 juta ton beras untuk 15 juta rumah tangga sasaran dengan harga tebus hanya Rp 1.600 per kilogram.

Ketika terjadi lonjakan harga beras saat paceklik, volume beras raskin/rastra ditambah sesuai dengan kebutuhan. Sebaliknya, saat panen raya, distribusi beras khusus ini dihentikan. Langkah itu sekaligus sebagai upaya pelindungan petani. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015 memberikan jaminan kepada petani melalui mekanisme harga pembelian pemerintah (HPP). Kemudian, Perum Bulog ditugaskan membeli gabah/beras petani dengan prognosa 2,5-3 juta ton beras per tahun. Kanal penyalurannya, selain untuk beras raskin/rastra, untuk penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) yang berfungsi sebagai buffer stock atau stok penyangga. (Yetede)
Tags :
#Beras
Download Aplikasi Labirin :