Linangan Air Mata Ana Nur Awaliyah yang Membasuh Perbedaan
Dengan berlinang air mata, Ana Nur Awaliyah menyampaikan kalimat pengantar saat pertemuan Paus Fransiskus dengan pelajar dan anak-anak muda lintas iman di Grha Pemuda, Kompleks Katedral Jakarta, Rabu (4/9). Ana merupakan guru, dosen, dan fasilitator anak di Buton, Sultra. Ia menyampaikan pentingnya edukasi sebagai upaya mengatasi kemiskinan. Ana juga anggota tim dalam Scholas Occurrentes, gerakan pendidikan internasional yang diluncurkan pada 2013 oleh Paus Fransiskus. Gerakan kaum muda untuk merealisasi perubahan sosial melalui pendidikan ini diinisiasi Paus Fransiskus jauh sebelum dia diangkat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Ana tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan keindahan praktik toleransi antarumat beragama di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan dengan berdirinya dua rumah ibadah bagi umat Katolik dan Islam yang saling berdampingan, yakni Katedral dan Masjid Istiqlal.
”Untuk pertama kali dalam hidup, saya mengunjungi, masuk, dan menjadi bagian dalam Gereja Katedral. Gereja Katedral disucikan oleh umat Katolik dan tepat di depan saya, berdiri pula tempat biasanya saya beribadah,” ujarnya sembari menahan tangis. Menurut Ana, dua rumah ibadah yang saling berdampingan ini merupakan sebuah simbol toleransi, di mana sebuah perbedaan seharusnya dihadapi dan dijembatani. Ia juga mendapat pelajaran toleransi ini lewat Islam dan gerakan Scholas Occurrentes. Dalam kurikulumnya, Scholas Occurrentes melatih Ana untuk melihat dunia dari pinggir jalan, rakyat miskin kota yang harusnya disekolahkan. Hal lain yang ditekankan adalah menyadarkan mereka yang kaya materi bahwa hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Sebagai seorang guru, Ana melihat kurikulum Scholas memiliki visi misi yang sama dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Dalam praktiknya, dibutuhkan tim kerja untuk menciptakan generasi muda dan guru yang tak hanya cerdas, tapi juga bahagia. Setelah dua tahun berproses dan terjun langsung di Italia, Liberia, dan Afrika, Ana masih terkoneksi secara intens dengan Scholas. ”Mendengarkan adalah cara komunikasi terbaik. Dengan cara itu, kita bisa menjembatani segala perbedaan menjadi satu,” katanya. Bryan Davis, pelajar SMAN 27 Jakarta, menyebut, Indonesia memiliki praktik hidup yang kompak satu sama lain meski berbeda suku, agama, ras, dan budaya. Namun, kekompakan ini dapat terancam akibat diskriminasi dan perundungan, termasuk di media sosial. (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023