;

Anjloknya ”Lifting” Minyak Bumi

Lingkungan Hidup Yoga 20 Aug 2024 Kompas
Anjloknya
”Lifting” Minyak Bumi

”Harga minyak mentah Indonesia diperkirakan 82 USD per barel. Lifting minyak diperkirakan 600.000 barel per hari dan gas bumi mencapai 1,005 juta barel setara minyak per hari,” demikian petikan Pidato Nota Keuangan RAPBN 2025 yang dibacakan Presiden Jokowi dalam Sidang Tahunan MPR pada Jumat (16/8). Di tengah tren penurunan produksi minyak secara alamiah, kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir, realisasi lifting atau produksi siap jual selalu di bawah target APBN. Sejumlah upaya telah dilakukan guna meningkatkan lifting minyak. Namun, tren penurunan produksi secara alamiah terus berlangsung. Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting minyak Indonesia pada semester I-2024 hanya 576.000 barel per hari. Bahkan, proyeksi sampai akhir 2024, lifting minyak 595.000 barel per hari.

Mengutip data yang dipaparkan Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2025, defisit minyak mentah (nilai ekspor dikurangi nilai impor) masih lebar. Pada 2023, defisit mencapai 9,4 miliar USD, turun dari 2022 senilai 9,8 miliar USD. Namun, jauh disbanding defisit pada 2019 senilai 4 miliar USD, 2020 senilai 2 miliar USD, dan 2021 senilai 4,3 miliar USD. Berbagai upaya yang dilakukan belum mampu mengangkat produksi minyak, untuk mencapai target APBN dari tahun ke tahun. Bahkan, target 1 juta barel minyak per hari pada 2030 semakin menjauh jika melihat realisasi lifting minyak saat ini. Kompas mencatat, lifting minyak terus melorot. Pada 2000, lifting minyak Indonesia pernah mencapai 1,4 juta barel minyak per hari (BOPD), turun menjadi 900.000-an BOPD pada 2010, hingga 605.500 BOPD pada 2023.

Pada semester I-2024 realisasi bahkan hanya 576.000 BOPD. Sejak 2004, Indonesia berstatus pengimpor bersih minyak karena produksi nasional berada di bawah kebutuhan domestik. Tantangan pemerintahan berikutnya di tangan Prabowo Subianto yang segera dilantik sebagai presiden periode 2024-2029 adalah membuktikan realisasi lifting minyak bumi bisa meningkat atau menyamai target APBN. Peningkatan produksi minyak bukan perkara jangka pendek, terutama saat 70 % sumur minyak Indonesia sudah tua. Pengamat ekonomi energi, juga dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Fahmy Radhi, Minggu (18/8) menuturkan, melihat data historis, target lifting minyak bumi APBN sulit dicapai. Sumber baru perlu ditemukan di lapangan-lapangan migas baru dan dibutuhkan investor yang mau datang berinvestasi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :