;

Putar Otak Warung Kopi di Tengah Pesta Petani

Lingkungan Hidup Yoga 27 Jul 2024 Kompas (H)
Putar Otak Warung Kopi
di Tengah Pesta Petani

Diprediksi harga kopi tetap tinggi hingga tiga tahun ke depan. Pemilik warung kopi menjaga bisnisnya dengan menaikkan harga secangkir kopi, subsidi silang dari produk nonkopi, dan beralih ke kopi impor. Furqan Alfadhli (35) menyambut hangat para tamu di tengah dinginnya cuaca pegunungan kawasan Besemah Serasan, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Sumsel, Rabu (3/7/2024) malam. Pemilik Warung Zaks Coffee by Kopi Ngobrol itu tak panik meski biji beras (greenbean) kopi premium telah menembus Rp 100.000-Rp 120.000 per kg, meningkat tiga kali lipat dibanding tahun lalu.

Ia telah mengantisipasi sejak harga kopi mulai merangkak naik, dengan menaikkan harga jual produk minumannya 10-20 % dalam dua bulan terakhir. Dia berkomunikasi dengan para pemilik warung kopi lainnya di Pagar Alam. Kenaikan harga disepakati bersama-sama. ”Demi kelangsungan usaha, harga produk minuman kami tak mungkin tak naik. Kalau tak naik, kami bisa gulung tikar,” ujar Furqan yang kini menjual produk minumannya Rp 10.000-Rp 25.000 per cangkir. Sejauh ini, tingkat penjualan Zaks Coffee tetap stabil di kisaran 10-15 gelas per hari. Untuk ukuran warung kopi di Pagar Alam, itu sudah baik. Di sana, hampir semua warga punya kebun kopi sendiri sehingga budaya yang berkembang adalah ngopi di rumah.

”Bahkan, ada anekdot, ngapain  beli kopi di warung kalau bisa ngopi gratis di rumah,” kata pengusaha warung kopi sejak 2016 itu. Terkait pasokan bahan baku, menurut dia, tidak ada masalah karena para pemilik warung kopi punya rekanan petani masing-masing. Tinggal pemilik warung saja mau segera membeli atau tidak. Penyuplai kopi sekaligus pemilik Warung Pempek dan Kopi (Peko) di kawasan Bangun Jaya, Kecamatan Pagar Alam Utara, Iwan Ridwan (43) tengah menghadapi dilema. Seiring berkurangnya stok kopi dan harus membeli bahan baku berharga tinggi, Iwan sempat dua kali menaikkan harga jual produknya 20-30 % sebulan terakhir.

Paling tidak, kopi robusta bubuk dari petik buah asalan naik dari Rp 90.000-Rp 100.000 per kg menjadi Rp 120.000 per kg sebulan lalu dan naik lagi menjadi Rp 140.000 per kg sepekan terakhir. Produk itu kebanyakan disuplai kepada penjual selanjutnya (reseller) di Palembang, Jakarta, dan Bekasi. Akibatnya penjualan kopi bubuk merosot 50 kg dari biasanya 100 kg-150 kg per bulan, karena menghilangnya pembeli yang mengisi warung kopi untuk segmentasi konsumen menengah ke bawah. Tak sedikit pembeli beralih pada kopi campur jagung yang harganya jauh lebih murah. ”Mereka rela menurunkan kualitas bahan baku ketimbang harus kehilangan konsumen,” ujar Iwan. (Yoga)


Tags :
#Kopi #Varia
Download Aplikasi Labirin :