Merawat Kearifan Lokal Desa
Kafe jamu Acaraki Gama yang berlokasi di Gedung Fakultas Farmasi UGM, ikut melestarikan warisan leluhur dengan memperkenalkan jamu di kalangan anak muda, sehingga diharapkan keberadaan jamu dapat lestari. Fakultas Farmasi UGM dikenal terbuka dalam mengembangkan obat berbasis tanaman asli Indonesia. Dulu disebut jamu, kini bernama obat herbal. Pada tahun 2021, di Cireundeu, sebuah desa adat, yang masyarakatnya bertahan dengan segala keunikan adat istiadat yang mereka miliki hingga saat ini. Dimana mereka mampu merawat kepercayaan mereka pada Sang Khalik, yaitu Sunda Wiwitan. Kang Jajat, pemuka desa tersebut, mengatakan, sebagai penganut kepercayaan yang tak masuk enam ”agama resmi” di Indonesia, penduduk desa menghadapi konsekuensi yang kurang menguntungkan di masa lalu.
Namun, di tengah situasi yang tidak mudah, penduduk desa tidak hanya mampu mempertahankan keyakinan mereka, tetapi juga makanan pokok mereka sehari-hari. Alih-alih makan nasi, mereka masih mempertahankan rasi, yaitu beras yang terbuat dari singkong dengan pengolahan khusus. Sebagian besar singkong yang digunakan sebagai makanan pokok dipanen dari lading sendiri. Dengan rasi, penduduk Cireundeu mampu mencapai ketahanan pangan sampai saat ini. Kang Jajat bercerita, ketika pembangunan di bidang kesehatan masuk ke desa mereka dengan semua ”modernitasnya”, posisi paraji (dukun beranak) pelan-pelan tergeser oleh bidan dan dokter dan konsekuensinya adalah ikut punahnya pengetahuan pengobatan tradisional berbasis tanaman lokal.
Sebagai negara tropis, dengan keanekaragaman hayati luar biasa, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penghasil obat dan bahan baku obat. Mengutip Kompas (13 Maret 2024) ada 28.000 spesies tumbuhan hidup Indonesia dan 80 % tanaman obat ada di sini. Apalagi jika mengingat Indonesia juga memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Tak kurang dari 1.300 suku bangsa mendiami bumi Nusantara dengan kearifan lokal masing-masing, termasuk dalam hal pengobatan. Sayangnya, sebagian besar pengetahuan yang berbasis kearifan lokal itu tidak terdokumentasi dengan memadai karena sebagian besar suku bangsa di Indonesia menganut budaya lisan, bukan tulis.
Tak heran jika pengetahuan pengobatan punah seperti di Cireundeu, Belum adanya kemandirian farmasi di Indonesia karena 95 % bahan obat masih diimpor dan potensi besar Indonesia dalam bidang obat-obatan berbasis tanaman dan pengetahuan lokal, menggali pengetahuan pengobatan berbasis kearifan lokal, yang sebagian besar masih tersembunyi di desa-desa, adalah sebuah cara menuju kemandirian di bidang kesehatan. Upaya yang dilakukan UGM, pantas disebarluskan untuk ditiru. Banyak pengetahuan berbasis kearifan lokal, yang masih terpendam di desa-desa, memiliki potensi menjadi solusi masalah-masalah yang dihadapi Indonesia saat ini. Perlu kesungguhan untuk menggali, menyempurnakan, dan kemudian merawat pengetahuan-pengetahuan tersebut, untuk Indonesia yang lebih baik. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023