Kutukan Timah dan Berkah Belitung
SEJARAH Pulau Belitung tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang industri tambang timah dan kehancuran ekosistem yang menyertainya. Berawal dari penemuan timah oleh Asisten Residen Belitong J.P. De La Motte pada 1823 dan pendirian Billiton Maatschappij beberapa tahun setelahnya, pertambangan timah di sana berjalan hingga satu abad kemudian.
Aktivitas pertambangan itu tak hanya mengubah rupa bumi Belitung. Kondisi sosial dan budaya masyarakat juga berubah, yang dipengaruhi oleh kedatangan pekerja tambang dari Cina sejak 1724. Di beberapa tempat, aktivitas pertambangan tradisional dengan “menyuntik” atau menyemprotkan air menggunakan pipa ke dalam tanah masih dilakukan karena dianggap lebih cepat mendatangkan uang.
Keberadaan timah di Belitung kemudian menjadi “kutukan” sumber daya alam. Seperti ditulis profesor asal Turki, Sevil Acar, dalam The Curse of Natural Resources (2017), istilah kutukan itu merujuk pada kondisi ketimpangan ekonomi sejumlah negara yang kaya sumber daya alam, tapi tak mampu menyejahterakan warganya.
Kutukan sumber daya alam di Belitung bahkan menjadi petaka besar. Terutama setelah terungkapnya kasus megakorupsi senilai Rp 271 triliun di PT Timah Tbk. Nilai kerugian itu, seperti disebutkan guru besar kehutanan Institut Pertanian Bogor, Bambang Hero Saharjo, merujuk pada nilai kerugian negara akibat kerusakan lingkungan dan perekonomian negara. (Yetede)
Tags :
#TimahPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023