Lanjutkan Penanganan Tengkes
Satu dari lima anak di Indonesia mengalami tengkes (stunting). Upaya mengatasi tengkes perlu dilanjutkan dan ditingkatkan, termasuk mencegah agar tidak ada lagi kasus baru di masa depan. Penanganan tengkes perlu dituntaskan mengingat dampak langsungnya pada SDM. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, Minggu (30/6), di Semarang, menyebutkan, kondisi tengkes sangat berpengaruh pada kemampuan intelektual seseorang. Apabila kemampuan intelektual rendah, tingkat keterampilan pekerjaan yang dimiliki juga akan rendah. Akibatnya, seseorang tersebut tidak bisa menjadi SDM yang berkualitas bagi sebuah bangsa. Mengutip data World Population Review Tahun 2022, tingkat kecerdasan rata-rata penduduk Indonesia 78,49.
Dengan tingkat kecerdasan itu, Indonesia menempati peringkat ke-130 di dunia. Data Forum Ekonomi Dunia (WEF) memperlihatkan tingkat pekerja berketerampilan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Tingkat penempatan pekerja berketerampilan tinggi Indonesia berada di peringkat ketiga terbawah dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara dengan skor 9,9. Terpaut jauh dibanding Singapura yang menempati urutan pertama, dengan skor 56,2. ”Jika (SDM) high-skill kita rendah dan lebih didominasi SDM dengan medium skill, SDM kita hanya akan menjadi tenaga kasar saja. Jadi, kita harus bergegas memperbaiki angka-angka tersebut. Semua ini sangat berhubungan dengan stunting. Oleh karena itu, penurunan stunting harus dipercepat dan semua tim harus bergerak dengan baik,” tutur Hasto.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi tengkes di Indonesia masih 21,5 %. Dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, jumlah itu hanya turun 0,1 %. Ketua Perkumpulan Promotor dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Indonesia Jateng, Anung Sugihantono mengatakan, tengkes jangan hanya dilihat sekadar angka. Penanganan tengkes harus dilihat secara utuh sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM. Itu berarti harus bisa menanggulanginya, mulai dari mencegah tengkes, menangani kasus tengkes, hingga menekan dampaknya. Keberlanjutan penanganan tengkes setidaknya sudah diterapkan Pemkot Semarang. Lewat salah satu program pengentasan masyarakat dari tengkes, ”Sayangi, Dampingi Ibu dan Anak Kota Semarang” atau Sanpiisan, Kota Semarang dapat mengurangi angka tengkes menjadi 20,8 %. Program tersebut juga mendapatkan penghargaan dari PBB. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023