Tantangan Keluarga Kita
Do not growing old before growing rich. ”Jangan menjadi tua sebelum kaya”, pesan Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Jakarta, Jumat (28/6) dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) pada 29 Juni 2024, bertema ”Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”. Tahun 2045, perkiraan BPS, Nusantara akan memiliki 321 juta orang, dengan 91,7 juta keluarga. Setiap keluarga rata-rata memiliki 3,5 warga. Pesan ”jangan menua sebelum kaya” menjadi relevan ketika melihat profil keluarga di negara kita dan harapan akan adanya bonus demografi. Apalagi, dikaitkan dengan asa Indonesia Emas sewaktu kita merayakan seabad Proklamasi Kemerdekaan RI. Rasio ketergantungan (dependency ratio) kita cenderung tinggi. Artinya, beban warga yang produktif cenderung berat.
Dependency ratio adalah perbandingan jumlah penduduk usia tidak produktif (anak-anak dan lanjut usia) dan jumlah penduduk usia produktif. Prediksi rasio ketergantungan Indonesia tahun 2045, berdasarkan proyeksi penduduk yang sering digunakan, diperkirakan turun hingga tahun 2030. Namun, akan kembali meningkat seiring penuaan populasi. Menurut data BPS, rasio ketergantungan negara ini diperkirakan meningkat menjadi sekitar 49,3 % tahun 2045. Artinya, ada 49 orang yang tidak bekerja (usia di bawah 15 tahun atau di atas 64 tahun) untuk setiap 100 orang yang bekerja, yang berusia 15-64 tahun. Angka ini bisa berubah seiring dengan perubahan demografi, kebijakan sosial, ekonomi, dan kesehatan di Indonesia.
Tahun 2035, dependency ratio di angka 48. Pada 2040, diproyeksikan menyentuh angka 50. Hasto mengingatkan, sebetulnya bonus demografi praktis sulit dinikmati untuk akselerasi pendapatan per kapita. Setelah tahun 2035, diperkirakan periode bonus demografi ini hilang. Jika kita tak bisa memanfaatkan bonus demografi ini, peluang untuk bangsa ini bisa kaya dan keluar dari middle income trap menjadi sangat kecil. Jendela bonus demografi semakin sempit. Jendela peluang bonus demografi terjadi saat dependency ratio di bawah 50 (Kompas, 29/6/2024). Sekecil apa pun, bonus demografi masih bisa dioptimalkan. Selalu masih ada harapan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023