Pasar Berdandan, Anak Muda Tercengang
Inilah era baru pasar tradisional Kota Yogyakarta. Selamat tinggal tempat kumuh, padat, dan kotor. Selamat datang tempat keren yang asyik untuk nongkrong, belajar, dan bekerja. Anak muda saja sampai rajin pergi ke pasar. ”Enggak nyangka, sih, kita bakal nongkrong di pasar buat kerja. Tempatnya nyaman,” kata Farhan Kristianto (26), karyawan swasta, di Mergangsan, Yogyakarta, Jumat (7/6) siang. Farhan melayangkan pandangan ke ruangan coworking space di Studio 103, sebuah ruang ekonomi kreatif di atap Pasar Prawirotaman yang masih sepi. Menjelang sore, ruang kerja bersama itu biasanya penuh anak muda yang sibuk mengerjakan tugas. Farhan rutin mendatangi ruang kerja bersama itu bersama temannya, Fitri Lestari (23), mahasiswa Universitas Janabadra. Mereka bisa datang empat sampai lima kali sepekan. Farhan sibuk menyelesaikan pekerjaan, sedang Fitri fokus menggarap skripsi. Di Studio 103, mereka cukup membayar Rp 10.000 untuk mendapat akses internet selama enam jam. Jika lapar, ada beberapa lapak warung yang menjual makanan Barat atau Nusantara dengan harga terjangkau yang siap mengganjal perut. ”Keren tempatnya,” tutur Fitri.
Farhan merupakan orang lokal, sedangkan Fitri sudah merantau ke kota ini sejak 2019. Namun, keduanya tidak pernah tertarik ke Pasar Prawirotaman. Ketika melihat pasar dengan wujud baru ini di Instagram, mereka tercengang dan akhirnya mau berkunjung. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Wajah suram Pasar Prawirotaman berubah setelah proses revitalisasi selesai pada 2020. Gedung dengan arsitektur khas Yogyakarta ini punya empat lantai. Lantai 1 sampai 3 merupakan area pasar rakyat dengan sentuhan modern untuk menjual kebutuhan pokok. Sementara itu, Studio 103 di lantai atas menjadi ruang ekonomi kreatif dengan slogan ”tempat nongkrong anak senja”. Tempat ini punya area kuliner dengan pemandangan senja Kota Yogyakarta dan lampu-lampu kota pada malam hari. Ada pertunjukan musik setiap hari Jumat. Fasilitas lain untuk disewakan juga tersedia, seperti studio foto, ruang siniar, studio musik, kantor, dan ruang rapat.
Pasar lain tidak mau kalah bersolek. Tahun ini, Pasar Sentul, Pakualaman, selesai direvitalisasi. Gedung pasar ini terdiri atas tiga lantai dengan arsitektur bergaya Indis sebab berada dalam kawasan cagar budaya Selain modernisasi tampilan pasar rakyat, pasar tersebut kini punya tempat makan di lantai paling atas. Ada lebih dari 20 warung makan, yang sebelumnya berada di Lapangan Sewandanan, berjualan di sana. Di tengah area makan, terdapat plaza atap terbuka yang terbagi menjadi dua lokasi untuk kegiatan kebudayaan. ”Sekarang pasarnya rapi dan tertata, ya, jadi belanja juga nyaman. Lihat gedungnya juga enak karena putih bersih. Wah, kalau dulu tampilannya beda jauh,” ucap Raden Baehaqi(38), warga sekitar yang pada Sabtu (8/6) bersama keluarganya berburu kuliner untuk makan siang di Pasar Sentul. Seusai berbelanja mingguan di lantai bawah, mereka menyantap ludes lontong sayur dan rujak es krim yang dijual di tempat makan tersebut. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023