;

Tamparan Keras dari Tragedi Sukolilo di Pati

Tamparan Keras dari
Tragedi Sukolilo di Pati

Peristiwa kekerasan di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jateng, pekan lalu, menyisakan pilu bagi banyak orang, termasuk warga setempat. Sejumlah pihak berharap ini menjadi momentum memberantas praktik jual-beli kendaraan bermotor ilegal yang memicu peristiwa tersebut. Desa Sumbersoko terletak di sudut paling ujung selatan-barat Pati dan agak terpencil. Akses dari pusat Kecamatan Sukolilo berupa jalan kecil yang hanya muat dilalui satu mobil. Kontur jalan naik-turun dengan lapisan aspal yang sudah tak mulus lagi, bahkan di beberapa lokasi hanya berbalut tanah dan batu. Mayoritas warga menyandarkan kehidupan dari ladang jagung dan ternak. Karsidi (60) Rabu (12/6) menceritakan, setelah peristiwa pada Kamis (6/6) lalu, ”Banyak orang menyesalkan kenapa peristiwa itu sampai terjadi. Banyak ibu menjerit-jerit saat kejadian, minta (kekerasan) dihentikan. Laki-laki juga banyak yang tak tega melihatnya, tetapi tak kuasa menghentikan,” ujarnya.

Video penganiayaan empat orang itu tersebar luas di jagat maya, mereka adalah BH (52), warga Jakarta, bersama tiga orang lainnya, yakni SH (28), KB (54), dan AS (37). BH meninggal dan tiga orang lainnya mengalami luka berat. Keempatnya dikeroyok setelah diteriaki maling saat mengambil mobil yang disewakan BH kepada seseorang. Mobil tak kunjung kembali dan penyewanya tak bisa dihubungi. Berdasarkan GPS di mobil itu, kendaraan berada di Sumbersoko. Karsidi tak mengetahui pasti mengapa sebagian warga bisa berbuat kekerasan seperti itu. Namun, sebelum peristiwa tersebut, di desa tetangga, Tompegunung, kerap kemalingan, uang, perhiasan, hingga pompa air. Peristiwa itu membuat Kecamatan Sukolilo menjadi sorotan publik, terutama di media sosial. Selain banjir kecaman soal kekerasan yang mengusik nurani, Sukolilo juga dituding sebagai daerah penadah kendaraan bodong alias ilegal.

Di Sukolilo, pada Rabu (12/6) memang tak sulit menemukan sepeda motor tanpa pelat nomor berseliweran di jalanan. bukan hanya sepeda motor tua, melainkan juga model terbaru.  Tokoh masyarakat Desa Sukolilo, Darmo Kusumo (64) mengatakan, fenomena kendaraan bodong di Sukolilo, terutama sepeda motor, berlangsung sejak awal decade 2000-an, bermula dari adanya orang yang menawarkan sepeda motor dengan harga miring yang bertemu dengan kebutuhan warga akan alat transportasi itu, termasuk untuk bertani. Belakangan, pola yang sama terjadi dengan mobil, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Akibat ulah sebagian kecil orang itu, nama Sukolilo tercoreng. Dia berharap aparat penegak hukum bertindak cepat dan tegas menghentikan perdagangan kendaraan bodong, jangan setengah hati.

Hal senada diungkapkan Ragil Kuswanto, generasi muda Sukolilo yang kerap mendokumentasikan kehidupan sosial-budaya Pati di media sosial. ”Peristiwa ini ’tamparan keras’ bagi Sukolilo untuk membenahi diri menjadi lebih baik lagi ke depan,” katanya. Aparat kepolisian telah bergerak menyelidiki kasus pengeroyokan di Sumbersoko dan menetapkan empat tersangka, yakni tiga warga Sumbersoko dan satu warga Desa Tompegunung. Kabid Humas Polda Jateng Kombes Stefanus Satake Bayu Setianto, kemarin, mengatakan, polisi telah menyita puluhan kendaraan ilegal dari sejumlah lokasi di Sukolilo dalam beberapa hari terakhir, tindak lanjut aduan masyarakat terkait kendaraan bodong. Dia menyatakan, polisi terus menginvestigasi kasus kekerasan. ”Detailnya segera kami rilis,” kata Satake. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :