Mengatasi Pengangguran Gen Z
Pengangguran kelompok muda harus disikapi serius. Investigasi Kompas memotret kian terimpitnya gen Z akibat lapangan kerja yang semakin sempit. BPS merilis data, hampir 10 juta penduduk usia muda (15-24 tahun, gen Z) berstatus menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training / NEET). Jumlah gen Z (lahir 1997 hingga 2012) yang menganggur ini 22,25 % total penduduk usia 15-24 tahun secara nasional. Data Litbang Kompas sebelumnya juga mengungkap, separuh lebih penduduk Indonesia yang menganggur adalah gen Z.
Ditambah kelompok usia 25-29 tahun, porsinya menjadi 66 %, yang artinya dua dari tiga anak muda di bawah 30 tahun yang tengah berada di usia produktif menganggur. Kondisi ini tak bisa kita abaikan karena gen Zadalah masa depan Indonesia dan menyumbang porsi terbesar demografi kita saat ini, 27 % dari total penduduk. Tanpa upaya mengatasi secara serius, hal ini sangat berbahaya. Selain bisa memicu gejolak sosial politik, kondisi ini juga bisa mengancam bonus demografi dan prospek ekonomi Indonesia ke depan, membuat kita sulit mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan keluar dari status negara berpendapatan menengah atau menjadi negara maju.
Sebagian menuding tingginya angka pengangguran kelompok muda akibat kegagalan pemerintah di bidang pendidikan dan mismatch antara lulusan sekolah dan kebutuhan industri. Sejumlah survei menunjukkan, fenomena pengangguran gen Z tak sesederhana itu. Karakteristik gen Z yang beda dari generasi sebelumnya juga berpengaruh. Sayangnya, paradigma kebijakan ketenagakerjaan dan pendidikan kita belum mampu merespons sepenuhnya perubahan ini. Struktur ekonomi dan sektor-sektor yang jadi prioritas masih sama. Tidak hanya tak cukup menyerap tenaga kerja, tetapi juga kurang mengakomodasi kebutuhan gen Z. Tantangan gen Z tak mudah. Pendidikan kian mahal, persaingan kian ketat, tuntutan kian tinggi. Tren otomatisasi/robotisasi/kecerdasan buatan juga menggusur peran manusia.
Mengenali kebutuhan gen Z dan menciptakan peluang seluas-luasnya melalui kebijakan dan ekosistem yang mendukung sesuai kriteria dan nilai-nilai baru yang diusung gen Z dan tuntutan dunia modern menjadi penting ke depan. Survei BPS menunjukkan, banyak genZmenganggur bukan karena takmau bekerja,melainkan ada kendala sosial ekonomi yang membuat mereka tak bisa bekerja kendati ada sebagian yang terlalu pemilih dalam pekerjaan dan karier. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya tetap dibutuhkan, tetapi tak kalah penting menyiapkan SDM muda dan membangun sektor-sektor ekonomi kreatif baru agar kita bisa mengapitalisasi potensi gen Z berlimpah yang kita miliki. (Yoga)
Postingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023