Aral Mengadang Kinerja Dagang
Neraca perdagangan Indonesia rupanya masih moncer kendati ketidakpastian sedang membayangi ekonomi global. Malah, sudah 48 bulan atau empat tahun terakhir ini, neraca perdagangan nasional selalu tercatat surplus. Termutakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada April 2024 neraca perdagangan Indonesia surplus US$3,56 miliar yang bersumber dari sektor nonmigas sebesar US$5,17 miliar, sedangkan defisit tercatat di sektor migas senilai US$1,61 miliar. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sejak Januari—April 2024 mencapai US$10,87 miliar.
Pada Maret 2024, surplus neraca perdagangan tercatat US$4,47 miliar, sedangkan pada April 2023, surplus neraca perdagangan mencapai US$3,94 miliar. Jika mengurai data BPS, maka dapat kita ketahui juga bahwa kinerja ekspor pun kurang solid, utamanya jika dilihat secara bulanan. Nilai ekspor Indonesia April 2024 tercatat US$19,62 miliar, atau turun 12,97% ketimbang Maret 2024. Setali tiga uang, secara kumulatif Januari—April 2024 pun kinerja ekspor belum cukup tangguh. Nilai ekspor Indonesia Januari–April 2024 mencapai US$81,92 miliar atau turun 5,12% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023.
Capaian itu agaknya tak terlalu mengherankan lantaran kinerja sektor industri pengolahan yang mulai kedodoran. Hal itu terlihat dari ekspor sektor industri pengolahan pada April 2024 yang melorot 15,95% dari bulan sebelumnya.
Ancaman inflasi tinggi yang merembet ke era suku bunga tinggi, berkelindan dengan dampak konflik geopolitik berisiko membuat permintaan lesu. Bahkan ketika permintaan naik pun, risiko gangguan rantai pasok masih ada di depan mata. Melihat dinamika tersebut, kebijakan yang bersahabat dengan pelaku usaha, termasuk industri manufaktur amat diperlukan. Baik berupa insentif fiskal maupun kemudahan dalam hal regulasi.
Survei Konsumen April 2024 yang digelar Bank Indonesia, diketahui bahwa optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat. Hal tersebut tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2024 yang berada pada zona optimis sebesar 127,7, lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yang tercatat 123,8. Demikian pula jika melihat kondisi keuangan konsumen pada April 2024 di mana rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi, untuk pembayaran utang, dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan tercatat relatif stabil ketimbang bulan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar 73,6%; 9,7%; dan 16,7%.
Tags :
#PerdaganganPostingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023