;

Bencana Hidrometeorologi Akibat La Nina Bercampur El Nino

Bencana Hidrometeorologi Akibat La Nina Bercampur El Nino
BENCANA yang mendera banyak daerah dalam beberapa waktu terakhir diprediksi terus berlangsung. Terutama ketika terjadi fenomena anomali suhu permukaan laut El Nino dan La Nina dalam satu waktu. “Ternyata sekarang kita tidak mengenal musim, atau saya sebut ketika fenomena La Nina dan El Nino bercampur,” ucap Ketua Departemen Geografi Universitas Indonesia, Jatna Supriatna, kepada Tempo pada Jumat, 17 Mei 2024. Fenomena La Nina sebetulnya merujuk pada bahasa Spanyol yang berarti gadis kecil atau putri, yakni penurunan suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudra Pasifik yang berada di dekat garis khatulistiwa. Penurunan suhu terjadi dari 3 derajat hingga 5 derajat Celsius dari suhu normal. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan pada musim kemarau dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi basah.

Sebaliknya, El Nino digambarkan sebagai bocah laki-laki untuk menyebut fenomena kenaikan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik. Dampaknya adalah curah hujan yang berkurang dan memicu kekeringan atau kemarau yang panjang di Indonesia. Situasi berbeda terjadi di Amerika Selatan yang justru menghadapi peningkatan curah hujan serta bencana banjir dan tanah longsor. Menurut Jatna, kedua fenomena tersebut dimungkinkan sedang berlangsung di Indonesia. Ditandai dengan terjadinya suhu panas saat pagi dan hujan ekstrem pada sore hari. Jatna menyebutnya sebagai Indian Ocean Dipole (IOD) atau fenomena osilasi suhu air permukaan laut yang tak teratur. Kondisi ini mengakibatkan wilayah barat Samudra Hindia lebih hangat dan timur Samudra Hindia lebih dingin.

Fase IOD erat kaitannya dengan datangnya bencana hidrometeorologi basah di wilayah pantai timur Afrika, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Kemudian merembet ke Indonesia yang mengalami dampak peningkatan curah hujan. Periode musim hujan berkepanjangan dengan curah hujan yang lebih tinggi dari normal pada saat musim kemarau mengakibatkan terjadinya kemarau basah. Jatna mencontohkan wilayah Sumatera sedang menghadapi intensitas hujan yang tinggi pada saat musim kemarau. Tak aneh terjadi bencana banjir lahar dingin di Sumatera Barat akibat curah hujan yang tinggi di sekitar puncak Gunung Marapi. Insiden ini mengakibatkan lebih dari 60 warga tewas karena disapu banjir bandang pada Sabtu, 11 Mei lalu. (Yetede)
Tags :
#Bencana
Download Aplikasi Labirin :