;

Banjir Berulang, Warga Terjebak Lingkungan Kritis

Lingkungan Hidup Yoga 12 May 2024 Kompas
Banjir Berulang,
Warga Terjebak
Lingkungan Kritis

Banjir membuat ribuan warga mengalami kesulitan berulang di tengah kritisnya lingkungan di Konawe Utara, Sultra. Semenjak banjir menerjang awal Mei lalu dan memutus jalan Trans-Sulawesi, rakit naik pamor. ”Cuma ini cara satu-satunya bisa menyeberang. Tidak ada jalan lain kalau mau ke Morowali,” kata Intan (29) Jumat (10/5) sore. Berangkat dari Konawe Selatan, Intan berencana ke Morowali, Sulteng, bersama anaknya Alea (18 bulan) mengunjungi suaminya yang bekerja di perusahaan pemurnian nikel. Bersama tiga rekannya yang juga ingin berangkat ke Morowali, mereka menyewa mobil bak terbuka senilai Rp 1,5 juta. Namun, banjir menghambat langkahnya. Hingga jelang malam, antrean masih mengular dan kendaraan yang ditumpanginya tidak bisa menyeberang.

Mereka akhirnya harus menginap di masjid bersama warga lain. Setelah menunggu lebih dari 24 jam, mereka memutuskan untuk menyeberang. Namun, sopir kendaraan yang disewanya tidak ingin menyeberangkan kendaraan. Di seberang ada kendaraan lain yang menunggu mereka untuk mengantar ke Morowali. Jarak wilayah banjir menuju tujuannya masih150 km lagi. Akses Trans-Sulawesi yang terputus di wilayah ini sepanjang 700 meter. Ketinggian air terdalam lebih dari 2 meter. Di tengah jalur, empat mobil terjebak. Satu mobil bahkan terbalik setelah berusaha menerobos banjir. Sejak Jumat (3/5), banjir menerjang wilayah Konawe Utara. Wilayah Oheo merupakan salah satu daerah langganan banjir, utamanya jalur Trans-Sulawesi di Desa Onembute. Akses penghubung satu-satunya antara Sultra-Sulteng ini pun terputus.

Agus (30) terjebak sejak hari pertama banjir melanda. Ia berencana ke Morowali membawa tiga pohon asam pesanan perusahaan. Namun, banjir memutus jalan, dan ia tidak berani menerobos. Terlebih, beberapa kendaraan yang nekat menerobos akhirnya terjebak dan tenggelam. Ia bersama kedua anak dan istrinya sudah seminggu di sini, Setiap hari, ia harus mengeluarkan Rp 200.000 untuk memenuhi kebutuhan makan dan keluarga. Untuk mandi dan istirahat, mereka memanfaatkan masjid yang berada tidak jauh dari lokasi banjir. Biaya operasional yang ia keluarkan telah begitu tinggi. Ia masih menunggu keputusan perusahaan apakah pesanan tersebut bisa dibawa kemudian hari.

”Saya di sini sudah habis. Mereka memang sudah bayar, tapi banjir ini tidak ada di hitungan awal,” ujarnya. Tak hanya biaya untuk menunggu yang tinggi, sejumlah warga juga mengeluhkan biaya rakit yang tinggi. Biaya untuk kendaraan minibus bisa mencapai Rp 800.000 sekali menyeberang. Sementara untuk satu buah motor berkisar Rp 100.000 dan warga Rp 30.000 per orang. Banjir telah merendam Konawe Utara selama lebih dari sepekan terakhir. Selain wilayah Oheo, lima kecamatan lain juga terdampak, yaitu Andowia, Asera, Langgikima, Landawe, dan Wiwirano. Seakan tak ada pilihan, warga harus menanggung akibat dari lingkungan yang kritis. Kini, warga hanya bisa menunggu solusi penanganan banjir dari pemerintah. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :