Mimpi NTT Mandiri Benih dari Desa Noelbaki
Hamparan padi jenis Ciherang membentang di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, NTT. Padi yang ditanam di sawah seluas 3,5 hektar itu sebentar lagi akan dipanen. Namun, gabah hasil panenan tersebut bukan untuk dikonsumsi, melainkan menjadi benih untuk ditanam lagi. Tanaman padi tersebut memang bukan milik petani, melainkan dikelola Balai Benih Induk Padi Noelbaki, instansi di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT. Pada Rabu (8/5) Plt Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Umbu Wanda datang ke Desa Noelbaki untuk memeriksa kondisi tanaman padi di sana. ”Senin (13/5) depan kami akan panen,” katanya. Menurut Joaz, umur padi sudah mencapai 100 hari sehingga siap dipanen, karena padi idealnya dipanen saat berusia 110-115 hari. Untuk persiapan panen, aliran air yang masuk ke sawah dihentikan. Aneka peralatan, termasuk tempat penjemuran padi, sudah disiapkan. Tenaga kerja untuk panen pun dihubungi.
Joaz memaparkan, setiap hektar padi di lahan itu diperkirakan menghasilkan 3,5 ton gabah kering panen (GKP). Produktivitas sawah penghasil benih itu memang lebih rendah dibandingkan dengan sawah di NTT pada umumnya yang bisa menghasilkan 5-6 ton GKP per hektar. Di beberapa provinsi lain, hasil panen bisa mencapai 7 ton GKP per hektar. Setelah panen selesai, gabah dari sawah penghasil benih tersebut akan dijemur. Setelah itu dilakukan proses sertifikasi secara ilmiah di laboratorium untuk mendapatkan benih yang berkualitas. Indikator utama benih berkualitas adalah kadar air paling tinggi 12 % dan daya tumbuh mencapai 80 %. Proses sertifikasi memakan waktu hingga dua bulan sebelum benih-benih tersebut didistribusikan kepada petani. Koordinator Balai Benih Induk Padi Noelbaki Marsel Manek mengatakan, proses sertifikasi dilakukan secara selektif demi mendapatkan benih berkualitas.
Namun, proses itu hanyalah ujung dari proses panjang yang dimulai dari penyiapan lahan. Jika di dekat lahan itu ditanami padi jenis lain, waktu tanam dibuat berjarak paling cepat 30 hari. Adapun jarak dengan lahan lain paling dekat 3 meter untuk mencegah terjadi percampuran ketika proses penyerbukan berlangsung. Manek menyebut, proses isolasi bertujuan untuk menjaga kemurnian dari varietas padi yang ditanam. Benih-benih yang telah siap akan didistribusikan ke para petani untuk ditanam di sawah. Di wilayah Noelbaki terdapat ra-tusan hektar sawah yang sebagian besar menggunakan benih dari balai benih tersebut. Di wilayah itu terdapat dua kali masa tanam padi setahun dengan pengairan dari Bendungan Tilong dan air hujan.
Setiap biji benih padi, kata Manek, dapat menghasilkan satu rumpun yang di dalamnya paling sedikit terdapat 15 batang. Satu batang menghasilkan 2 malai. Setiap malai terdapat 30 butir padi. Artinya, dalam satu rumpun terdapat 900 butir padi. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura NTT Semuel Keffi mengatakan, ketersediaan benih di NTT, jauh di bawah kebutuhan. Dari total kebutuhan benih 300.000 ton per tahun, pasokan yang tersedia hanya 50.000 ton. Karena itu, NTT masih harus mendatangkan benih dari wilayah lain. Saat ini, harga benih berkisar Rp 15.000-Rp 20.000 per kg. Melihat kondisi hari ini, butuh kerja keras untuk membawa NTT mandiri benih. Namun, tak salah jika ada mimpi ke arah sana. Mimpi itu bisa dimulai dari Desa Noelbaki. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023