;

Janji Pembangunan Merata Masih Superfisial

Janji Pembangunan
Merata Masih Superfisial

Hampir 10 tahun berlalu, janji Presiden Jokowi untuk mendorong pembangunan yang ”Indonesia-sentris” alias tidak berpusat di Jawa pelan-pelan mulai terlihat. Akan tetapi, pemerataan pembangunan yang dicita-citakan itu masih superfisial atau sekadar di permukaan. Ekonomi luar Jawa memang tumbuh tinggi, tetapi rakyatnya belum sejahtera. Mengutip data BPS, pada triwulan I-2014 sebelum Jokowi menjadi presiden, struktur perekonomian Indonesia sangat didominasi oleh Jawa dengan kontribusi 58,52 % terhadap PDB dan Sumatera sebesar 23,88 %. Menjelang akhir rezim Jokowi, berdasarkan data pertumbuhan ekonomi triwulan I-2024, kendati masih mendominasi, kontribusi Jawa terhadap pembentukan PDB turun menjadi 57,70 %, diikuti Sumatera yang turun menjadi 21,85 % dan Kalimantan turun menjadi 8,19 %.

Di saat yang sama, kontribusi wilayah Indonesia tengah dan timur terhadap pembentukan PDB meningkat. Peran Sulawesi naik paling signifikan menjadi 6,89 %, disusul Bali dan Nusa Tenggara menjadi 2,75 %, dan Maluku-Papua menjadi 2,62 %. Direktur Eksekutif Center of Reformon Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal, Kamis (9/5) menilai, pemerataan pembangunan di era Jokowi memang terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat di kawasan Indonesia timur dan tengah. Namun, pergeseran tersebut belum terlalu signifikan dalam satu dekade terakhir.

”Ada pergeseran dari Jawa ke luar Jawa, tetapi belum terlalu signifikan karena masih di kisaran 1 %. Pertumbuhan ekonomi di Maluku, Papua, dan Sulawesi memang tinggi karena kontribusi hilirisasi dan masuknya investasi smelter di sektor pertambangan,” kata Faisal. Isu yang paling mencolok adalah minimnya dampak pengganda (multiplier effect) dari pertumbuhan yang tinggi itu terhadap kesejahteraan masyarakat. Meskipun ekonomi di Maluku, Papua, dan Sulawesi mencapai dua digit, tingkat pengangguran dan kemiskinan di daerah tersebut tidak ikut turun secara signifikan. ”Ini menunjukkan pemerataan yang terjadi masih superfisial, baru di permukaan. Yang kita inginkan adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak sekadar tinggi, tetapi harus diikuti peningkatan kesejahteraan,” kata Faisal. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :