Cuaca Panas Ancam Produksi Beras
Suhu udara yang panas belakangan ini membawa berkah selama masa panen padi. Kartono, 39 tahun, petani asal Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menuturkan sinar terik matahari membantu proses pengeringan gabah. Percepatan pengeringan penting untuk mencegah kerusakan beras. Rendemen atau persentase beras yang dihasilkan penggilingan juga bakal meningkat. Tapi pada saat yang sama, udara panas juga membuat Kartono khawatir. Sebab, masa tanam padi kedua tidak lama lagi akan datang. "Di beberapa wilayah, sawah tadah hujan rawan gagal tanam dan gagal panen," tuturnya kepada Tempo, kemarin, 7 Mei 2024.
Di tengah cuaca panas, Kartono berujar, sumur bor terkadang tak bisa menjadi solusi bagi sawah tadah hujan. Pasalnya, air cenderung cepat menguap dan habis. Selain itu, pekerjaan pembuatan sumur bor membutuhkan banyak biaya. Dia mengimbuhkan, sejumlah petani di Desa Nunuk berpotensi menunda penanaman padi untuk mencegah kerugian. Kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa mengancam produksi beras nasional pada masa tanam kedua pada Juni mendatang
Kekhawatiran akan produksi pada masa tanam kedua juga diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia Muhammad Nuruddin. Dia memperkirakan pasokan air masih mencukupi karena fenomena cuaca panas berbeda dengan El Nino panjang pada tahun lalu. Tapi masalahnya adalah hama. Pada musim kemarau, menurut Nuruddin, hama padi cenderung berkembang biak dengan cepat. Ditambah cuaca yang makin panas, dia khawatir jumlahnya akan makin membeludak. "Sekarang ini masuk musim kawin tikus. Ketika Juni-Juli nanti, anak-anak tikus itu akan besar," tuturnya. (Yetede)
Tags :
#BerasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023