;

ART JAKARTA GARDENS 2024 : MEMBANGKITKAN TRADISI PATUNG LUAR RUANG

ART JAKARTA GARDENS 2024 : MEMBANGKITKAN TRADISI PATUNG LUAR RUANG

Pada era Presiden Soekarno, karya seni patung monumental dijadikan alat diplomasi kebudayaan di ruang publik. Sekarang tradisi itu meredup, tetapi ada secercah harapan dari swasta yang menyalakan lagi semangat tersebut. Tradisi citra patung di luar ruang seperti era Bung Karno belum lama ini dihidupkan kembali. Sebanyak 30 patung karya 28 seniman ditampilkan di ruang terbuka Art Jakarta Gardens di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, pada 23-28 April 2024. Setiap karya seniman dihadirkan oleh galeri peserta Art Jakarta Gardens 2024 yang berjumlah 23 galeri. Patung dan instalasi itu merupakan karya seniman lintas generasi Tanah Air. Mulai dari Nyoman Nuarta dan G. Sidharta, hingga seniman muda Dian Hardiansyah dan Bandu Darmawan. Selama pameran, publik diajak menjelajahi kombinasi presentasi karya seni bentuk patung, instalasi, dan objek dua dimensi. 

“Pilihan Plataran sebagai lokasi juga diperhitungkan karena tempat ini mendukung untuk karya seni patung sesuai tradisi dalam seni rupa, yakni di luar ruangan. Ini juga memperkaya ragam acara seni dan hiburan bagi warga Kota Jakarta,” ujar Direktur Artistik Art Jakarta Gardens Enin Supriyanto pada wartawan. Sekira dua puluh langkah dari lobi, pengunjung juga disajihkan karya Teguh Ostenrik. Pematung kawakan itu memboyong karya berjudul The Dream of Mother yang menawarkan tema personal mengenai hubungan antara ibu dan anak. Ini terefleksi lewat dua objek patung abstrak yang berdiri saling berdekatan. Teguh juga masih mengeksplorasi bronze casted sebagai material karya, sehingga meninggalkan kesan rustic yang menyatu dengan alam. Meski tampak abstrak, visual yang tampil seolah menggambarkan figur ibu yang ingin memeluk si buah hati, sementara sang anak tampak berlari menuju dekapan sang ibu. 

Tahun ini misalnya, Art Jakarta Gardens 2024 menggandeng PT Indonesia Logam Pratama (Treasury). Perusahaan tersebut kali ini turut menghadirkan karya seni patung Naufal Abshar berjudul Gold is King yang ditempatkan di dekat tenda B area pamer. Dalam karya ini Naufal mengambil inspirasi dari keledai dari karakter lukisannya, Donkey. Menurutnya, keledai merupakan hewan yang punya ikatan kuat dengan emas. Pada masa lalu, para penambang emas seringkali membawa hasil tambangnya dengan keledai ke kota. Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, gelaran ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah bertemunya ekosistem seni di Indonesia, tetapi juga memacu diskusi menarik tentang keberadaan seni rupa di ruang publik saat ini. Seni rupa, kata Hilmar, sudah sepatutnya menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat di sebuah wilayah. Hilmar membayangkan patung dan instalasi yang ditata sedemikian rupa di ruang publik hari ini, tidak hanya terjadi di sebuah art fair.

Download Aplikasi Labirin :