Agenda Diplomasi Ekonomi Indonesia di Panggung Selatan
Melihat kondisi global saat ini, muncul berbagai kekuatan
baru yang dapat membuat dunia berkarakter brittle, anxious, non-linear, dan
incomprehensible (BANI). Berbagai permasalahan ini adalah bentuk koreksi atas
demokrasi hipokrit dan standar ganda negara Barat dalam bersikap pada berbagai
isu atau konflik global. Fenomena BANI harus diantisipasi negara-negara karena
dapat menimbulkan kerugian serius ditengah berbagai agenda global lainnya,
seperti transisi energi, emisi nol bersih, dan perubahan perilaku menyikapi
perubahan iklim. Rivalitas yang kini terjadi tidak hanya antar dua hegemoni
blok kekuatan, juga antar server proxy karena sangat mungkin adanya proxy war.
Di waktu mendatang, persaingan geopolitik blok Barat dan Timur akan sedikit
mereda, tetapi menguat persaingan geopolitik 5.0. Ini diawali dengan munculnya
blok kawasan Utara dan Selatan.
Kawasan Indo-Pasifik dan Laut China Selatan akan jadi episentrum
konflik perebutan sumber daya. Persaingan geopolitik akan menjadi world war
blue yang berbasiskan cyber army. Di situ, teknologi IoT, AI, blockchain, dan
remote sensing akan diperebutkan untuk memenangi percaturan global. Fenomena ini
baru mulai terjadi dengan banyaknya negara membentuk angkatan militer ke-4
berbasis cyber untuk mengumpulkan data menjadi big data, mempelajari, serta
memengaruhi algoritma manusia. Perang global ke depan juga akan diwarnai
penggunaan teknologi High-Frequency Active Auroral. Konflik mendatang juga akan
diwarnai kompetisi persaingan ekonomi.
Pada abad ke-21, China diyakini akan menjadi ekonomi terbesar
dunia dengan pangsa 22,68 %, yakni mencapai 101 triliun USD ditengah
perlambatan ekonomi yang sedang terjadi di negeri itu. Persaingan antarforum
kerja sama global, yakni G7, Uni Eropa, OECD, ASEAN, MIKTA, dan BRICS, dinilai
akan sangat sengit. Kunci dari persaingan global ke depan adalah negara yang dapat
memegang cadangan minyak dan energi. Selain itu, juga merangkul negara-negara
kepulauan sebagai ”investasi” di PBB untuk memenangi voting dalam pengambilan
keputusan. Indonesia perlu melakukan redefinisi ”politik Bebas Aktif”, yakni
dengan mengembalikan sentralitas dalam kancah politik global.
Sebagai negara besar, Indonesia harus menjadi pembawa
proposal Selatan-Selatan ke dunia Internasional. Hal itu dilakukan dengan berbenah
secara ekonomi, sekaligus membangkitkan kembali solidaritas kawasan Selatan yang
menjadi modal sosial Indonesia selama ini dalam menghadapi kompleksitas global.
Peran negara kepulauan akan menjadi kunci Indonesia melalui sinergi kekuatan
gerakan Non-Blok dengan menghadirkan kerja sama negara berkembang. Solidaritas
negara berkembang dapat dibangkitkan dengan model ekonomi Indonesia yang kini
tengah menjadi perhatian internasional. Indonesia harus aktif menghimpun modal
dari negara G7, OECD, Uni Eropa, BRICS, dan MIKTA sehingga dapat mendorong soft
lending facility kepada negara berkembang. Bentuk diplomasi ekonomi ini akan
mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap peran Indonesia. (Yoga)
Postingan Terkait
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023