;

GERAK CEPAT AMANKAN SUPLAI MINYAK

Lingkungan Hidup Hairul Rizal 20 Apr 2024 Bisnis Indonesia (H)
GERAK CEPAT AMANKAN SUPLAI MINYAK

Konflik geopolitik di Timur Tengah makin meningkat setelah Israel meluncurkan serangan balasan ke Iran, membuka risiko terganggunya pasokan minyak mentah impor sekaligus memicu lonjakan harga komoditas energi ini ke titik tertinggi. Kemampuan Iran sebagai salah satu produsen utama minyak mentah untuk tetap memenuhi komitmen mengekspor minyak mentah sesuai komitmen mendapatkan perhatian dari sejumlah negara importir komoditas energi ini, termasuk Indonesia. Pasalnya, konflik Iran-Israel dikhawatirkan bakal mengganggu keamanan jalur pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Kawasan ini menjadi lalu lintas strategis kapal tanker yang setiap harinya mengangkut hingga 21 juta barel minyak mentah ke sejumlah negara pengimpor. Selama ini, Indonesia mengimpor minyak mentah dari Nigeria Afrika Barat, Arab Saudi, dan Gabon Afrika Tengah yang harus melintasi Selat Hormuz. Sejak Iran melancarkan serangan terbuka pada Sabtu (14/4), pemerintah Indonesia langsung gerak cepat melakukan perhitungan sekaligus antisipasi pengamanan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Kendati, optimistis stok BBM nasional masih dalam level aman, pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) mulai melirik sumber cadangan impor minyak mentah yang baru. Menteri ESDM Arifin Tasrif langsung memetakan sejumlah negara produsen di Afrika bagian Selatan dan Amerika Latin yang dapat memenuhi kebutuhan impor BBM nasional yang tidak terpengaruh dengan rute di Selat Hormuz.

Penjajakan di dua negara ini pun harus dilakukan dengan teliti karena kilang yang dioperasikan oleh PT Kilang Pertamina Internasional hanya dapat mengolah minyak mentah dengan kandungan sulfur maksimal 0,2%. Selaras, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, perseroan tidak hanya mencari alternatif rantai pasok energi global saja. Pertamina, turut mencermati fluktuasi harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Berdasarkan pantauan Bisnis, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan (19/4) pukul 22.00 WIB mencapai US$83,14 per barel, lebih tinggi dibandingkan dengan perdagangan pagi pukul 06.54 WIB sebesar US$82,6 per barel. Di tengah konflik geopolitik, sebagai negara yang masih memiliki potensi migas yang cukup besar, Indonesia bakal mendapatkan berkah dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bakal meraup cuan dari proyek hulu minyak dan gas (migas).

Kepala Divisi Program dan Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Hudi Suryodipuro memastikan momentum ini langsung direspons oleh KKKS melalui aktivitas jangka pendek, a.l. mempercepat identifikasi potensi tambahan kegiatan workover and stimulation yang dapat meningkatkan produksi. Adapun, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, selain berkah dari kenaikan harga minyak mentah muncul pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan para pemangku kepentingan. “Indonesia berbeda dengan negara lain. Lapangannya sudah mature. Dengan demikian, produksi minyak mentah secara natural turun. Untuk meningkatkan produksi butuh investasi yang signifikan untuk mengebor sumur eksplorasi dan penerapan teknologi EOR ,” jelasnya.   Terlebih, imbuhnya, produksi minyak yang dihasilkan tidak menjamin mampu menutup jumlah investasi yang dikeluarkan oleh KKKS. Moshe menilai, pemerintah perlu menambah insentif dan menjaga iklim investasi yang kondusif bagi industri migas yang padat risiko dan padat modal ini.

Tags :
#Migas
Download Aplikasi Labirin :