POTENSI MIGAS : HARAPAN BARU DARI AMERIKA LATIN
Secercah asa untuk industri minyak dan gas bumi atau migas nasional muncul dari Amerika Selatan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Venezuela yang sebenarnya masih mendapatkan embargo dari Amerika Serikat memberikan penawaran menarik untuk Indonesia yang hingga kini masih banyak mengimpor minyak dan produk olahannya. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeklaim Venezuela sudah menawarkan sejumlah blok minyak prospektif untuk Indonesia. Hanya saja, pemerintah hingga kini masih memikirkan tawaran tersebut, mengingat problem berlapis yang berpotensi dihadapi Indonesia jika menggarap potensi migas negara tersebut. Tidak hanya embargo, karakter minyak yang relatif berbeda dengan spesifikasi kilang di Indonesia juga menjadi pertimbangan dalam kerja sama yang nantinya dilanjutkan oleh PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji membeberkan bahwa salah satu negara dengan potensi migas terbesar di dunia tersebut tidak hanya menawarkan blok minyak yang prospektif untuk digarap, tetapi juga mematok investasi yang terbilang murah dan kompetitif.
Pemerintah memang mesti berhati-hati dalam menindaklanjuti kerja sama pengerjaan blok migas di wilayah yang terkena sanksi oleh Amerika Serikat (AS). Pasalnya, sanksi yang diberikan Negeri Paman Sam tersebut kerap menghambat proses bisnis yang dilaksanakan Pertamina. Misalnya saja, dividen senilai US$300 juta yang baru bisa ditarik Pertamina setelah mengendap 4 tahun dari kepemilikan sebanyak 32% atas hak partisipasi Lapangan Urdaneta West Field di Venezuela. Dividen tersebut baru bisa ditarik setelah pemerintah melakukan ‘sejumlah lobi’ terhadap AS. Meski begitu, Kementerian ESDM sebenarnya telah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Kementerian Perminyakan Venezuela pada awal tahun ini. Selain itu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) baru saja resmi mendapat perpanjangan kontrak selama 20 tahun untuk Blok Urdaneta West Field, yang merupakan portofolio minyak perusahaan migas pelat merah di Venezuela. Chalid menjelaskan, terdapat pembatasan sulfur content atau kandungan sulfur yang bisa diolah di kilang-kilang milik Kilang Pertamina Internasional, yakni maksimal 0,2%. Sementara itu, sulfur content minyak berat aset perseroan di Venezuela itu lebih dari 1%.
Meski pengolahan minyak dari Venezuela masih jadi persoalan, Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto meminta PHE untuk menambah investasi pengembangan, eksplorasi, dan akuisisi lapangan minyak di Venezuela. Hal tersebut untuk mengompensasi realisasi lifting nasional terus susut beberapa tahun terakhir. Adapun, realisasi lifting minyak hingga akhir 2023 berada di level 605.500 barel minyak per hari (bph) atau 92% dari target APBN yang saat itu ditetapkan 660.000 bph. Sementara itu, realisasi salur gas hingga akhir 2023 berada di level 5.378 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) atau 87% dari target tahun lalu 6.160 MMscfd. Hanya saja, investasi yang dikeluarkan untuk menahan laju penurunan produksi relatif mahal. “Di Rokan ini terlalu mahal, bayangkan produksinya 160.000 barel, tetapi fluida yang dikeluarkan itu 10.000 barel, itu yang jadi mahal karena itu perlu listrik buat flooding uapnya,” tuturnya. Di sisi lain, Pri Agung Rakhmanto, Founder & Advisor Refor Miner Institute, mengatakan bahwa Pertamina perlu melakukan kajian detail mengenai potensi sumber daya dan cadangan migas yang disertai dengan tingkat risiko sebelum memutuskan untuk mengakuisisi lapangan migas di luar negeri.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023