INVESTASI BATERAI EV : TENAGA BARU PENGHILIRAN DARI CHINA
Ekosistem kendaraan listrik Tanah Air kembali mendapatkan angin segar, di tengah maraknya tantangan industri nikel dan pengolahan. Produsen nikel terbesar di dunia, Tsingshan Holding Group Co. dipastikan bakal membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia. Unit bisnis baterai Tsingshan Holding Group Co. bakal menjadi investasi terbaru dari China yang akan membantu Indonesia melaksanakan penghiliran komoditas pertambangan mineral dengan nilai tambah yang lebih menguntungkan. REPT BATTERO Energy Co., akan membangun pabriknya dekat fasilitas milik Tsingshan sebagai holdingnya yang sudah ada di Teluk Weda, dan direncanakan beroperasi pada tahun depan, sehingga bisa menarik perhatian para pesaingnya yang juga berencana meningkatkan kapasitas produksinya di negara lain. Pemilihan lokasi yang berdekatan dengan fasilitas Tsingshan juga bertujuan agar perusahaan bisa memanfaatkan bahan mentah dan infrastruktur yang sudah ada. Pembangunan pabrik di Indonesia pun diharapkan bisa mengurangi kekhawatiran terhadap gesekan perdagangan dengan Amerika Serikat dan Eropa yang berpotensi mengganggu ekspor dari China. Hingga kini, China merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia, karena setidaknya telah menghabiskan lebih dari US$7 miliar pada tahun lalu. Sebagian besar investasi yang dikeluarkan tersebut digunakan untuk memba-ngun fasilitas pengolahan cadangan bahan mentah yang berlimpah di Tanah Air. Hal tersebut sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi pusat perkembangan kendaraan listrik global, di mana saat ini China menjadi negara yang paling banyak menjual mobil listrik di dunia. Dominasi China dalam kendaraan listrik dan pemrosesan banyak mineral penting telah menarik perhatian para pejabat perdagangan di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Hong mengatakan bahwa ketidakpastian kebijakan berpotensi menjadi masalah bagi perusahaan, dan penempatan pabrik di Indonesia dapat membantu memitigasi ancaman tersebut.
“Biaya tenaga kerja dan listrik di Indonesia serupa dengan di China. Tsingshan memiliki infrastruktur yang komprehensif, dan pengalamannya yang luas di negara ini akan membantu dalam memperkirakan anggaran. Kami juga memiliki hubungan baik dengan Pemerintah Indonesia yang mendukung sektor energi baru,” jelasnya. Meski begitu, pengembangan baterai kendaraan listrik di Indonesia bukannya tanpa risiko. Salah satu alasannya adalah pasokan listrik di dalam negeri yang saat ini sangat bergantung pada batu bara, sehingga meningkatkan kekhawatiran lingkungan di kalangan pembeli dan investor.
Dari dalam negeri, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam menargetkan pembangunan industrial park untuk pengembangan ekosistem baterai dapat terealisasi pada 2025. Industrial park yang dimaksud adalah smelter nikel dengan high pressure acid leaching (HPAL) dan rotary kiln electric furnace (RKEF). Direktur Utama Antam Nico Kanter mengatakan bahwa pihaknya merupakan bagian yang berada di hulu dalam konsorsium pengembangan baterai yang dilakukan Contemporary Amperex Technology Co. (CATL), sehingga pembangunan smelter dengan teknologi RKEF dan HPAL di dalam negeri harus dilakukan segera.
Sementara itu, pabrik baterai mobil listrik yang dibangun oleh Hyundai dengan menggandeng LG Energy Solution Ltd. bakal beroperasi pada April 2024. Fasilitas itu telah menelan investasi senilai Rp21,7 triliun. Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan kongsi Hyundai-LG akan meresmikan pabrik baterai dengan kapasitas terpasang 10 gigawatt hour (GWh) pada bulan depan. Pembangunan pabrik bahkan diklaim sudah memasuki tahap untuk penambahan 10 GWh.
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
Proyek Hilirisasi US6 Miliar Segera meluncur
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023