Geopolitik Energi Terbarukan
Energi turut menentukan geopolitik dunia. Penggunaan pembangkit
hijau yang terus meningkat memunculkan kekuatan baru dalam geopolitik energi.
Setelah kesadaran mengurangi pemanasan global dengan menekan emisi karbon meluas,
penggunaan energiterbarukan meningkat. Banyak negara menambah porsi pembangkit
energi terbarukan. Pembangkit berbasis bahan bakar fosil tetap dipakai, tetapi
kontribusinya berusaha dikurangi. Hari Rabu (27/3) Badan Energi Terbarukan
Internasional (IRENA) menyatakan, energi terbarukan dunia tumbuh pesat
sepanjang 2023: bertambah 473 gigawatt di sektor pembangkitan listrik, terbesar
dalam setahun sepanjang sejarah. Energi terbarukan yang berperan signifikan
dalam penambahan sepanjang 2023 merupakan energi surya dan angin (Kompas.id, 31
Maret 2024).
Dahulu, kekuatan geopolitik energi didominasi segelintir pemasok
bahan bakar fosil, seperti Arab Saudi, belakangan AS muncul setelah berhasil
berinovasi dan mendulang cadangan shale gas. Ada pula Rusia yang memiliki
cadangan besar gas serta minyak. Negara-negara itu merupakan pemain krusial
energi fosil dari sisi suplai. Di sisi permintaan, China sangat penting. Pertumbuhan
ekonominya yang tinggi selama beberapa dekade terakhir menempatkan China sebagai
pembeli besar di pasar energi fosil. Namun, situasi berubah. China menjadi
pemasok besar energi terbarukan, karena menguasai teknologi energi terbarukan
sehingga membuatnya tak lagi cuma konsumen. Hal terjadi karena sungguh-sungguh
direncanakan secara matang oleh Beijing, ketergantungan terhadap impor energi
fosil harus dikurangi signifikan. Negara itu pun beralih sebagai pemain penting
pemasok energi terbarukan, tidak hanya pengguna teknologi pembangkit listrik
hijau.
China, menurut IRENA, menyumbang 91 persen dari total penambahan
kapasitas energi terbarukan di Asia. Porsi China yang sangat besar itu jelas
berpengaruh signifikan terhadap posisi Asia yang secara global memberikan
kontribusi 69 persen terhadap peningkatan kapasitas energi terbarukan dunia. China
bisa berkontribusi besar dalam penambahan kapasitas energi terbarukan karena
menguasai teknologinya. Penggunaan energi terbarukan yang meluas dimanfaatkan secara
baik oleh China. Pergeseran kekuatan geopolitik energi akibat peningkatan
kebutuhan teknologi pembangkit hijau menguntungkan China. Persaingan geopolitik
energi terbarukan akan terus meningkat. Maka, negara-negara lain harus bekerja
keras untuk menguasai teknologi energi terbarukan sehingga tak selalu didikte
kekuatan besar di sektor tersebut. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023