Dominasi Maskapai Grup Lion di Angkasa
Lokasi Indonesia di antara dua samudra membuat penerbangan
menjadi moda transportasi paling efektif untuk menjangkau negara lain di Asia
Tenggara dan Australia di selatan Indonesia. Hari ini, tulang punggung penerbangan
di Indonesia adalah maskapai-maskapai dalam Grup Lion. Total 367 unit pesawat
menerbangkan pelanggan Grup Lion, baik di dalam maupun luar negeri. Armada Grup
Lion terdiri dari Lion Air sebanyak 109 unit, Wings Air (73), Batik Air (72),
Super Air Jet (60), Batik Air Malaysia (35), dan Thai Lion Air (18). ”Dominasi
Grup Lion luar biasa. Pangsa pasar (hampir) 70 % sekarang. Kalau dia kolaps,
kita enggak bisa ke mana-mana,” kata Direktur Angkutan Udara Direjen
Perhubungan Udara Kemenhub Putu Eka Cahyadi di kantornya, Jakarta, awal Maret
ini.
Putu menambahkan, dominasi Grup Lion tambah besar setelah
Super Air Jet mengudara justru saat pandemi Covid-19 menggila. Tahun 2023, Super
Air Jet menempati peringkat pertama kenaikan pangsa pasar, yakni 5,5 %. Terbang
dengan Airbus A320, Super Air Jet terlihat dari seragam awak kabinnya, menyasar
segmen anak milenial. Menurut pendiri Grup Lion, Rusdi Kirana, membangun
maskapai idealnya harus menguasai semua hal, dari A sampai Z. ”Fasilitas
maintenance, perawatan pesawat saja kami bangun,” ujar Rusdi saat ditemui di
Batam Aero Technic, Batam, Kepri, Kamis (21/3). Ketika terbang perdana pada 30
Juni 2000, Lion Air dikenal sebagai maskapai berbiaya rendah (LCC). Seiring
berjalannya waktu, Rusdi punya strategi berbeda.
Grup Lion kini melayani semua segmen. Batik Air, misalnya,
menjadi mitra tanding Garuda Indonesia. Meski demikian, rasa syukur lebih
banyak ditujukan bagi kehadiran Wings Air hingga pelosok negeri. Agung H Riwu
(35), warga Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, mengatakan, kehadiran maskapai Wings
Air sangat membantu mobilitas warga dari Maumere ke Kota Kupang, ibu kota NTT. Waktu
tempuh dengan pesawat ATR 72 sekitar 45 menit. Harga tiket berkisar Rp 1 juta.
Jika tidak ada penerbangan, warga Maumere ke Kupang harus naik kapal Pelni yang
berlayar dua minggu sekali selama 20 jam dengan harga tiket Rp 250.000. ”Kalau
pesawat tidak jalan karena cuaca buruk atau seperti saat pandemi, banyak pekerjaan
saya terbengkalai,” kata aktivis sosial itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Kebijakan Diskon Tiket Transportasi
RI Kembangkan Industri Pesawat Amfibi
Duo Investor Raksasa Dibalik RS Hermina
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023