;

Dominasi Maskapai Grup Lion di Angkasa

27 Mar 2024 Kompas
Dominasi Maskapai
Grup Lion di Angkasa

Lokasi Indonesia di antara dua samudra membuat penerbangan menjadi moda transportasi paling efektif untuk menjangkau negara lain di Asia Tenggara dan Australia di selatan Indonesia. Hari ini, tulang punggung penerbangan di Indonesia adalah maskapai-maskapai dalam Grup Lion. Total 367 unit pesawat menerbangkan pelanggan Grup Lion, baik di dalam maupun luar negeri. Armada Grup Lion terdiri dari Lion Air sebanyak 109 unit, Wings Air (73), Batik Air (72), Super Air Jet (60), Batik Air Malaysia (35), dan Thai Lion Air (18). ”Dominasi Grup Lion luar biasa. Pangsa pasar (hampir) 70 % sekarang. Kalau dia kolaps, kita enggak bisa ke mana-mana,” kata Direktur Angkutan Udara Direjen Perhubungan Udara Kemenhub Putu Eka Cahyadi di kantornya, Jakarta, awal Maret ini.

Putu menambahkan, dominasi Grup Lion tambah besar setelah Super Air Jet mengudara justru saat pandemi Covid-19 menggila. Tahun 2023, Super Air Jet menempati peringkat pertama kenaikan pangsa pasar, yakni 5,5 %. Terbang dengan Airbus A320, Super Air Jet terlihat dari seragam awak kabinnya, menyasar segmen anak milenial. Menurut pendiri Grup Lion, Rusdi Kirana, membangun maskapai idealnya harus menguasai semua hal, dari A sampai Z. ”Fasilitas maintenance, perawatan pesawat saja kami bangun,” ujar Rusdi saat ditemui di Batam Aero Technic, Batam, Kepri, Kamis (21/3). Ketika terbang perdana pada 30 Juni 2000, Lion Air dikenal sebagai maskapai berbiaya rendah (LCC). Seiring berjalannya waktu, Rusdi punya strategi berbeda.

Grup Lion kini melayani semua segmen. Batik Air, misalnya, menjadi mitra tanding Garuda Indonesia. Meski demikian, rasa syukur lebih banyak ditujukan bagi kehadiran Wings Air hingga pelosok negeri. Agung H Riwu (35), warga Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, mengatakan, kehadiran maskapai Wings Air sangat membantu mobilitas warga dari Maumere ke Kota Kupang, ibu kota NTT. Waktu tempuh dengan pesawat ATR 72 sekitar 45 menit. Harga tiket berkisar Rp 1 juta. Jika tidak ada penerbangan, warga Maumere ke Kupang harus naik kapal Pelni yang berlayar dua minggu sekali selama 20 jam dengan harga tiket Rp 250.000. ”Kalau pesawat tidak jalan karena cuaca buruk atau seperti saat pandemi, banyak pekerjaan saya terbengkalai,” kata aktivis sosial itu. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :