;

Matematika Pangan Lokal

Lingkungan Hidup Yoga 14 Mar 2024 Kompas
Matematika Pangan Lokal

Melonjaknya harga beras menjadi momentum untuk kembali pada beragam pangan lokal. Selain lebih murah, pangan lokal lebih segar dan memiliki kandungan gizi yang baik. Ditinggalkanya beragam pangan lokal dan bergesernya pola konsumsi ke beras membebani ekonomi masyarakat, terutama di daerah defisit beras seperti NTT. Semakin miskin masyarakat, presentasi penghasilan yang tersedot untuk membeli beras kian besar. Masyarakat harus mengorbankan beragam kebutuhan konsumsi yang lain, termasuk mengurangi konsumsi protein. Hal ini pada gilirannya berisiko meningkatkan masalah gizi pada anak.

”Harga beras saat ini paling mahal dari yang saya alami selama hidup. Warga saat ini terbebani luar biasa dengan perkembangan ini,” kata Kepala Desa Mudakeputu, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yohanes Purin Weking (57), Minggu (3/3). Harga beras di Pasar Mudakeputu saat ini mencapai Rp 17.000 per kg, jauh lebih tinggi dari ketetapan harga eceran tertinggi (HET) Rp 14.400 per kg. Kenaikan harga beras ini diikuti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lain, termasuk telur. ”Warga miskin tambah miskin karena uang saat ini seperti tidak bernilai,” ujarnya. Anastasia Marselina Dai (35), ibu rumah tangga di Desa Mudakeputu, menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan beras, keluarganya menjual hasil pertanian, seperti sayur-mayur, singkong, dan jagung, tetapi harganya tidak sebanding.

Satu karung singkong, 50 kg, hanya laku dijual Rp 20.000. ”Kami sekarang harus menghemat untuk membeli lauk-pauknya. Ikannya dikurangi, yang penting anak-anak kenyang dulu,” katanya. Menurut Yohanes, lonjakan harga beras saat ini membuatnya tersadar tentang pentingnya pangan lokal. ”Kalau warga masih mau makan pangan-pangan lokal, pasti tidak akan kesusahan dengan naiknya harga beras,” ujarnya. Secara tradisional, masyarakat Mudakeputu memiliki pengetahuan untuk mengolah jagung dan singkong sebagai pangan pokok. ”Bahkan, kalau mau ke hutan, juga banyak umbi-umbian yang dulu waktu saya masih kecil menjadi makanan sehari-hari,” lanjutnya.

Jagung kuning, misalnya, menurut ahli gizi IPB University, Drajat Martianto, memiliki kandungan energi 355 kalori per 100 gram (g), hampir sama dengan nasi sebesar 360 kalori per 100 g. Sementara tepung gaplek memiliki kandungan energi 363 kalori per 100 g. Bahan pangan ini juga memiliki unsur mikro dengan kandungan bervariasi. Dari sisi harga, beragam pangan lokal juga lebih murah. Meski begitu, makan juga soal kebiasaan selain persepsi warga yang sudah terhegemoni pangan pokok harus beras. Menurut Yohanes, selama puluhan tahun, masyarakat di desa diajarkan bahwa makan harus beras. Mereka yang masih makan putu dan nasi jagung dianggap orang tidak mampu. ”Ini yang membuat warga menjual jagung, singkong, dan mete untuk beli beras,” katanya (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :