Matematika Pangan Lokal
Melonjaknya harga beras menjadi momentum untuk kembali pada
beragam pangan lokal. Selain lebih murah, pangan lokal lebih segar dan memiliki
kandungan gizi yang baik. Ditinggalkanya beragam pangan lokal dan bergesernya pola
konsumsi ke beras membebani ekonomi masyarakat, terutama di daerah defisit
beras seperti NTT. Semakin miskin masyarakat, presentasi penghasilan yang tersedot
untuk membeli beras kian besar. Masyarakat harus mengorbankan beragam kebutuhan
konsumsi yang lain, termasuk mengurangi konsumsi protein. Hal ini pada
gilirannya berisiko meningkatkan masalah gizi pada anak.
”Harga beras saat ini paling mahal dari yang saya alami selama
hidup. Warga saat ini terbebani luar biasa dengan perkembangan ini,” kata
Kepala Desa Mudakeputu, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yohanes Purin Weking (57),
Minggu (3/3). Harga beras di Pasar Mudakeputu saat ini mencapai Rp 17.000 per kg,
jauh lebih tinggi dari ketetapan harga eceran tertinggi (HET) Rp 14.400 per kg.
Kenaikan harga beras ini diikuti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lain,
termasuk telur. ”Warga miskin tambah miskin karena uang saat ini seperti tidak
bernilai,” ujarnya. Anastasia Marselina Dai (35), ibu rumah tangga di Desa Mudakeputu,
menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan beras, keluarganya menjual hasil
pertanian, seperti sayur-mayur, singkong, dan jagung, tetapi harganya tidak
sebanding.
Satu karung singkong, 50 kg, hanya laku dijual Rp 20.000. ”Kami
sekarang harus menghemat untuk membeli lauk-pauknya. Ikannya dikurangi, yang
penting anak-anak kenyang dulu,” katanya. Menurut Yohanes, lonjakan harga beras
saat ini membuatnya tersadar tentang pentingnya pangan lokal. ”Kalau warga
masih mau makan pangan-pangan lokal, pasti tidak akan kesusahan dengan naiknya
harga beras,” ujarnya. Secara tradisional, masyarakat Mudakeputu memiliki
pengetahuan untuk mengolah jagung dan singkong sebagai pangan pokok. ”Bahkan,
kalau mau ke hutan, juga banyak umbi-umbian yang dulu waktu saya masih kecil
menjadi makanan sehari-hari,” lanjutnya.
Jagung kuning, misalnya, menurut ahli gizi IPB University,
Drajat Martianto, memiliki kandungan energi 355 kalori per 100 gram (g), hampir
sama dengan nasi sebesar 360 kalori per 100 g. Sementara tepung gaplek memiliki
kandungan energi 363 kalori per 100 g. Bahan pangan ini juga memiliki unsur
mikro dengan kandungan bervariasi. Dari sisi harga, beragam pangan lokal juga
lebih murah. Meski begitu, makan juga soal kebiasaan selain persepsi warga yang
sudah terhegemoni pangan pokok harus beras. Menurut Yohanes, selama puluhan
tahun, masyarakat di desa diajarkan bahwa makan harus beras. Mereka yang masih
makan putu dan nasi jagung dianggap orang tidak mampu. ”Ini yang membuat warga
menjual jagung, singkong, dan mete untuk beli beras,” katanya (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023