;

Mengejar Mimpi dalam Debu Hilirisasi di Bahodopi

Ekonomi Yoga 12 Feb 2024 Kompas
Mengejar Mimpi dalam Debu Hilirisasi di Bahodopi

Riuh suara siswa yang bermain dan belajar di Bahodopi, Morowali, Sulteng, tenggelam dalam deru industri. Di lingkungan yang sesak dan berpolusi, serta gemerlap hilirisasi bernilai triliunan rupiah, mereka bergelut dengan keterbatasan. Selasa (6/2/2024), ruang kelas I di Madrasah Tsanawiyah Al Jariyaah, Desa Labota, Bahodopi, begitu riuh. ”Tadi belajar satu pelajaran sampai pukul 09.00. Dua pelajaran lain tidak ada gurunya,” kata Dewi (13), salah satu siswi dari 170 siswa sekolah ini. Mereka berbagi satu ruangan untuk dua kelas setelah sejumlah ruangan dilalap api pada 2021. Sekolah ini berjarak hanya 50 m dari PLTU di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang merupakan sentra hilirisasi nikel. “Di sini sering sakit, batuk-batuk,” ujarnya. Asmarani (13), siswi lain, mengeluhkan hal yang sama. Meski baru dua tahun di wilayah ini, ia telah berulang sakit. Terakhir ia dibawa ke puskesmas karena dadanya sesak. Batuk menjadi penyakit langganan.”

Debu dan polusi di kawasan ini memenuhi udara setiap waktu. Di jalanan, kendaraan yang melintas dan angin yang bertiup menerbangkan debu tanpa jeda. Sementara asap pembakaran industri menguar sepanjang hari. Menurut Eka Widiasai (29), guru di sekolah itu, beberapa pengajar sakit dan tak masuk sekolah, begitu juga siswa, selalu ada yang tidak hadir setiap hari. Saat kemarau, debu tebal memenuhi ruangan. Ia khawatir kondisi ini menimbulkan dampak kesehatan ke anak dan guru. Kondisi SD Negeri 1 Labota tak jauh berbeda. Cerobong besar berdiri di belakang sekolah dengan 487 siswa itu. Hermonis (40), wali kelas I, menuturkan, kasus anak sakit serupa hal yang wajib. Setiap hari selalu saja ada orangtua siswa yang meminta izin karena anaknya sakit. Dampaknya, pembelajaran jadi terhambat. Kondisi ini terjadi sekitar tiga tahun terakhir.

Kadis Pendidikan Morowali Amir Aminuddin menuturkan, untuk Bahodopi yang merupakan kawasan industri masih terjadi kekurangan, baik ruang kelas, guru, maupun perlengkapan lain. Salah satu faktornya adalah fluktuasi penduduk karena banyaknya pekerja yang datang. Terkait masifnya debu yang mengganggu pembelajaran, Amir tak menampiknya. Kondisi ini telah disampaikan ke instansi terkait. Ia berharap ada perhatian serius untuk penanganan. ”Karena debu itu tidak seperti luka yang seminggu bisa sembuh, ini bisa panjang nantinya,” ujarnya. Ahmad Ashof Birry, Direktur Program Trend Asia, mengungkapkan, pendidikan dan kesehatan di Bahodopi terdampak hilirisasi yang tidak inklusif. Saat ini hanya terbangun pabrik, tetapi tidak dengan lingkungan dan manusia. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :