Mengejar Mimpi dalam Debu Hilirisasi di Bahodopi
Riuh suara siswa yang bermain dan belajar di Bahodopi,
Morowali, Sulteng, tenggelam dalam deru industri. Di lingkungan yang sesak dan
berpolusi, serta gemerlap hilirisasi bernilai triliunan rupiah, mereka bergelut
dengan keterbatasan. Selasa (6/2/2024), ruang kelas I di Madrasah Tsanawiyah Al
Jariyaah, Desa Labota, Bahodopi, begitu riuh. ”Tadi belajar satu pelajaran
sampai pukul 09.00. Dua pelajaran lain tidak ada gurunya,” kata Dewi (13),
salah satu siswi dari 170 siswa sekolah ini. Mereka berbagi satu ruangan untuk
dua kelas setelah sejumlah ruangan dilalap api pada 2021. Sekolah ini berjarak
hanya 50 m dari PLTU di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang
merupakan sentra hilirisasi nikel. “Di sini sering sakit, batuk-batuk,” ujarnya.
Asmarani (13), siswi lain, mengeluhkan hal yang sama. Meski baru dua tahun di
wilayah ini, ia telah berulang sakit. Terakhir ia dibawa ke puskesmas karena
dadanya sesak. Batuk menjadi penyakit langganan.”
Debu dan polusi di kawasan ini memenuhi udara setiap waktu.
Di jalanan, kendaraan yang melintas dan angin yang bertiup menerbangkan debu tanpa
jeda. Sementara asap pembakaran industri menguar sepanjang hari. Menurut Eka
Widiasai (29), guru di sekolah itu, beberapa pengajar sakit dan tak masuk sekolah,
begitu juga siswa, selalu ada yang tidak hadir setiap hari. Saat kemarau, debu
tebal memenuhi ruangan. Ia khawatir kondisi ini menimbulkan dampak kesehatan ke
anak dan guru. Kondisi SD Negeri 1 Labota tak jauh berbeda. Cerobong besar
berdiri di belakang sekolah dengan 487 siswa itu. Hermonis (40), wali kelas I, menuturkan,
kasus anak sakit serupa hal yang wajib. Setiap hari selalu saja ada orangtua
siswa yang meminta izin karena anaknya sakit. Dampaknya, pembelajaran jadi
terhambat. Kondisi ini terjadi sekitar tiga tahun terakhir.
Kadis Pendidikan Morowali Amir Aminuddin menuturkan, untuk
Bahodopi yang merupakan kawasan industri masih terjadi kekurangan, baik ruang
kelas, guru, maupun perlengkapan lain. Salah satu faktornya adalah fluktuasi
penduduk karena banyaknya pekerja yang datang. Terkait masifnya debu yang
mengganggu pembelajaran, Amir tak menampiknya. Kondisi ini telah disampaikan ke
instansi terkait. Ia berharap ada perhatian serius untuk penanganan. ”Karena
debu itu tidak seperti luka yang seminggu bisa sembuh, ini bisa panjang
nantinya,” ujarnya. Ahmad Ashof Birry, Direktur Program Trend Asia, mengungkapkan,
pendidikan dan kesehatan di Bahodopi terdampak hilirisasi yang tidak inklusif.
Saat ini hanya terbangun pabrik, tetapi tidak dengan lingkungan dan manusia. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023