;

Darius Don Boruk Mengabdi untuk Warga Desa

Darius Don Boruk
Mengabdi untuk Warga Desa

Sejak muda Darius Don Boruk terbiasa dengan pemberdayaan masyarakat dan pembelaan terhadap hak-hak petani kecil. Semangat itu makin berkobar ketika dia menjadi kepala desa. Kini dia total mengabdi untuk kesejahteraan warga desa. Di tengah gelap malam, Don, sapaan akrab Darius Don Boruk, mendatangi satu per satu rumah penduduk yang menampung pengungsi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Ia ingin memastikan, setiap pengungsi yang tinggal di desanya terlayani dengan baik. Desa itu bernama Boru Kedang, di Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, NTT, 9 km dari puncak Gunung Lewotobi Laki-laki yang mengalami erupsi sejak 23 Desember 2023 hingga Kamis (25/1/2024). Boru Kedang berada dalam zona aman, jauh dari ancaman erupsi. ”Saya imbau untuk siapkan tempat tidur dan beri makan pengungsi. Kalau ada masyarakat yang kekurangan makanan, laporkan kepada saya. Saya gerakkan orang untuk ambil makan di kebun,” tuturnya.

Pengabdian total kepada masyarakat yang melekat dalam napas hidup Don tidak kendur sedikit pun hingga usianya kini 56 tahun. Sejak muda, ia sudah terlibat mengorganisasi masyarakat dalam memperjuangkan hak atas tanah yang diambil negara. Ia juga mengorganisasi petani melawan tengkulak. Tahun 1994, Don membentuk kelompok tani di Kecamatan Wulanggitang dengan jumlah petani 1.500 orang, sebagai perlawanan terhadap para tengkulak yang bertahun-tahun menggerus pendapatan petani. Tengkulak yang menguasai akses modal dan pasar mempermainkan harga kakao, komoditas unggulan petani di daerah itu. Kondisi ini membuat petani kaya dengan komoditas, tetapi hidupnya tetap miskin. Don bersama tim mendampingi petani mulai dari proses penanaman hingga pascaproduksi, lalu menjembatani petani dengan pembeli di Maumere, Kabupaten Sikka, 70 km barat Wulanggitang. Untuk membantu petani yang membutuhkan uang sebelum panen tiba, mereka mengarahkan ke koperasi.

Selama memimpin sebagai Kepala Desa, ia memprioritaskan pendidikan anak-anak kurang mampu. Setiap tahun ia mengalokasikan anggaran Rp 100 juta bagi 20 orang yang hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Angka tersebut setara 12,5 % alokasi dana desa yang berkisar Rp 800 juta setiap tahun. Para penerima diikat dengan perjanjian, yakni harus kuliah tepat waktu. Jika drop out, penerima wajib mengembalikan dana yang sudah diterima. Bagi penerima yang menikah saat masih dalam masa studi, hak untuk menerima beasiswa mulai tahun selanjutnya akan dicabut. Setelah lulus, mereka boleh bekerja di mana saja. Selama kepemimpinan Don pada 2014-2020, sekitar 30 orang berhasil meraih gelar sarjana dan kini sudah bekerja di sejumlah instansi pemerintahan ataupun perusahaan swasta. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :