Merayakan Buah-buahan Hutan di Palangkaraya
Panen buah hutan dinanti saat pergantian tahun di
Palangkaraya, Kalteng. Ragam buah-buahan menghiasi kota sekaligus penanda masih
ada sisi hutan Kalteng yang tetap terjaga. Salah satu sudut Jalan Yos Sudarso
sejak lama dikenal sebagai pusat kuliner di Palangkaraya. Berjarak 1 km dari
Bundaran Besar Palangkaraya, kawasan itu menjadi primadona warga. Ragam
kuliner, seperti ikan bakar hingga ragam hidangan laut, tersaji mengundang rasa
lapar warga. Namun, salah satu yang ditunggu oleh warga di sudut jalan itu
ialah buah-buahan hutan. Biasanya, musim buah-buahan hutan tiba saat akhir
tahun, atau menuju pergantian tahun, bersamaan dengan datangnya musim hujan.
Warga dapat mengetahui musim itu telah dating seiring munculnya lapak-lapak
kayu beratap terpal biru dan hitam, tempat buah-buahan hutan dijajakan. Momen
panen buah-buahan hutan itu hanya datang setahun sekali, selama satu-dua bulan.
Yunan Juran (47), warga Bukit Batu, Kota Palangkaraya, Rabu
(10/1) malam, misalnya, rela menembus hujan untuk datang ke satu dari puluhan
lapak buah-buahan hutan. Ia tertarik pada manggis hutan, ketiau, dan sentol.
Usai tawar-menawar dengan penjual menggunakan bahasa Dayak Ngaju, Yunan membayar
Rp 60.000 untuk 2 kg buah pilihannya. ”Ketiganya bukan buah yang lazim ditemui
di tukang buah biasanya. Mangat ih (enaknya),” kata Yunan saat menyantap
ketiau. Bentuk ketiau persis melinjo, kecil dan lonjong. Kulitnya merah. Daging
buahnya seperti rambutan, bentuk dan rasa sentol seperti kecapi. Bedanya, buah
ini tumbuh liar di hutan-hutan Kalimantan. Salah satu pemilik lapak buah,
Fitri, mengatakan, panen buah kali ini melimpah. Tidak hanya jumlahnya, tetapi
juga ragam jenisnya.
”Tahun lalu ada buahnya, tetapi hanya manggis saja, yang lain
tidak berbuah,” kata Fitri, yang menempuh perjalanan panjang dari Rungan di Gunung
Mas, 150 km dari Palangkaraya, untuk berjualan buah hutan. Bersama suami dan
anaknya, ia tinggal di lapak berukuran 4 x 5 meter yang dibuat awal Desember
2023. Buah-buah itu tumbuh liar di hutan. Saat panen, Fitri mengambil dan
menjualnya untuk menyambung hidup. Ia ikut menjaganya dengan tidak menebang pohon-pohon
tersebut. Penjual lainnya, Ahmad Candra (36), menempuh perjalanan 200 km dari Desa
Kalahien, Barito Selatan, ke Palangkaraya. Buah andalannya yakni ramania (Bouea
macrophylla Griffith). Kulit dan daging ramania, yang dijual Rp 40.000 per kg, berwarna
kuning. Bijinya ungu dan krem. Rasa manisnya tidak dominan meski tidak asam.
Buah yang masih muda juga digunakan untuk sayuran dan sambal. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023