;

SEKTOR ENERGI : LIFTING MIGAS MASIH PENUH TANTANGAN

Lingkungan Hidup Hairul Rizal 13 Jan 2024 Bisnis Indonesia
SEKTOR ENERGI : LIFTING MIGAS MASIH PENUH TANTANGAN

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi memproyeksi produksi siap jual atau lifting minyak dan gas bumi pada tahun ini masih di bawah realisasi lifting sepanjang 2023. Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Wahju Wibowo mengatakan catatan itu merujuk hasil work program & budget (WP&B) 2024 untuk target lifting minyak dan gas bumi (migas) yang tetap di bawah angka yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). “Begitu APBN ditetapkan kita mengerjakan WP&B bekerja 3 bulan dengan seluruh KKKS dengan dinamika diskusinya jumlahnya ternyata sekitar 596 MBOPD relatif turun dari lifting minyak 2023 di level 605,5 MBOPD,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (12/1). Kendati kegiatan pemboran dan rencana investasi makin agresif, dia memperkirakan lifting migas sampai akhir tahun ini tetap dipatok lebih rendah dari yang ditargetkan APBN.Seperti diketahui, WP&B 2024 untuk lifting minyak ditetapkan di level 596 MBOPD atau lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam APBN di level 635 MBOPD. Biasanya, kata dia, lewat program filling the gap atau kegiatan pengeboran di luar WP&B dapat menambah lifting minyak di rentang 15 MBOPD sampai dengan 20 MBOPD. Akan tetapi, Wahju menilai upaya untuk mencapai target WP&B itu belakangan terbilang sulit dengan berbagai alasan. 

“Sekarang ini kita tahu kita kehilangan sekitar 7.000 BOPD karena banjir, ada sekitar 7 rigyang terhalang dikepung banjir, berapa sudah force majeure dan harus dievakuasi terkait banjir di Sumatra,” kata dia. Namun, tingkat Reserves Replacement Ratio (RRR) sepanjang 2023 berhasil mencatatkan torehan positif sebesar 123,5%. Adapun, target RRR untuk tahun ini dipatok lebih rendah di level 120%.Sementara itu, pemerhati migas dari Research Institute for Mining and Energy Economics (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto berpandangan perhitungan teknis lifting migas memang sulit mencapai angka yang ditargetkan dalam APBN. Sebaliknya, Pri Agung menilai angka WP&B mesti bisa dipertanggungjawabkan karena terkait dengan target lifting tertentu, cost recovery tertentu, dan penerimaan negara.Sayangnya, dia mengatakan SKK Migas dan KKKS selalu mengandalkan lapangan migas yang sudah ada sehingga lifting migas dari waktu ke waktu tidak mengalami kenaikan. “Ke depan hanya akan berlanjut decline dan decline, hanya seberapa tajam atau landai saja declinenya,” tegasnya. Sebaliknya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menargetkan pengeboran satu sumur eksplorasi taruhan atau wildcat pada 2026 mendatang di sebagian konsesi Blok East Natuna. Dua lapangan yang dikelola PHE di Blok East Natuna itu di antaranya Lapangan Arwana dan Barakuda. Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng menuturkan perseroan bakal memulai survei seismik pada Agustus tahun ini. Adapun, Blok East Natuna diperkirakan menyimpan sumber daya minyak mencapai 2,2 BBO dan gas sebesar 300 BSCF. Potensi sumber daya itu terbentang di atas luasan konsesi 10.484,39 kilometer persegi. PHE berkomitmen untuk menggelontorkan investasi awal sebesar US$13 juta atau setara dengan Rp194,5 miliar (asumsi kurs Rp14.968 per dolar AS).

Tags :
#Energi #Migas
Download Aplikasi Labirin :