ELPIJI SUBSIDI, Migrasi Jadi ”Miskin”
Persoalan distribusi elpiji 3 kg atau subsidi semakin tampak
dan mencuat ke permukaan. Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari
elpiji nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Mereka yang tidak berhak mendapat
subsidi semakin banyak mengonsumsi barang subsidi. Agar tepat sasaran, pemerintah
dan PT Pertamina (Persero), sejak 2023, mulai mendata konsumen. Kebijakannya, hanya
yang terdaftar nomor induk kependudukannya yang bisa membeli elpiji 3 kg,
terutama di tingkat subpenyalur atau pangkalan. Kementerian ESDM mencatat, pada
2020-2022, realisasi penyaluran elpiji subsidi meningkat 4,5 % persen.
Sementara realisasi penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari
total 8,6 juta ton realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya elpiji 3 kg.
Artinya, pangsa pasar elpiji ”melon” mencapai 93,3 %.
Berdasar data Pertamina pada rapat di Komisi VII DPR, 14 Juni
2023, tren penyaluran elpiji subsidi meningkat dari 23.200 ton per hari pada
Januari 2021 menjadi 26.000 ton per hari pada Januari 2023. Sebaliknya, penjualan
elpiji nonsubsidi rumah tangga merosot dari sekitar 1.900 ton per hari pada
Januari 2021 menjadi 1.300 ton per hari pada Januari 2023. Pada rapat itu disebutkan,
yang mendorong kondisi tersebut ialah disparitas harga jual elpiji subsidi dan elpiji
nonsubsidi di penyalur atau agen. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji
nonsubsidi dengan elpiji subsidi Rp 7.333 per kg, yang terus meningkat hingga
mencapai Rp 13.500 per kg pada Juli 2023. Berdasarkan Perpres dan Permen ESDM,
harga jual eceran (HJE) elpiji 3 kg di titik serah atau agen/penyalur Rp 4.250
per kg atau Rp 12.750 per tabung, sejak 2008.
Di pangkalan, harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan oleh
setiap pemda daerah. Kompas mencatat, harga elpiji 12 kg di tingkat agen per 22
November 2023, untuk Pulau Jawa-Bali Rp 192.000 per tabung. Dibandingkan dengan
harga elpiji 3 kg, yang jauh lebih terjangkau, meski sudah di atas HET setiap daerah.
Di tingkat pengecer atau warung-warung, di Jabodetabek, harga isi ulang elpiji
3 kg berkisar Rp 19.000-Rp 21.000 per tabung. Terus melebarnya disparitas harga
antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji ”melon” semakin
marak. Sekilas, upaya pembenahan distribusi elpiji 3 kg, sederhana, yakni
mengarahkan komoditas yang tadinya dijual secara bebas menjadi terarah kepada
masyarakat miskin. Namun, praktiknya penuh tantangan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023