Kecelakaan Berulang Bisa Hambat Hilirisasi
Perhatian serius perlu diarahkan pada insiden ledakan tungku smelter
nikel milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel atau ITSS di kawasan
industri Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah, Minggu (24/12/2023),
yang menewaskan 19 orang. Apalagi, kecelakaan di sektor industri berisiko
tinggi ini bukan kejadian pertama. Jika tanpa kesungguhan dalam evaluasi dan
audit, cita-cita hilirisasi produk tambang bisa terancam. Praktisi pertambangan
dan industri Andi Erwin Syarif, di Jakarta, Jumat (29/12), berpendapat, secara
prinsip, hilirisasi adalah proses peningkatan nilai tambah. Apabila produksi
terhenti akibat kecelakaan kerja, ada sederet dampak ikutan negatif yang
merugikan. ”(Itu) termasuk beban biaya yang ditanggung perusahaan akibat jatuhnya korban, kerusakan
infrastruktur, dan waktu yang hilang.
Di sisi lain, pendapatan negara akan berkurang dari pajak, retribusi,
dan lainnya. Penerapan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja)tak sekadar tanggung
jawab etis, tapi juga memastikan produksi berjalan aman,” ujarnya. Menurut dia,
penerapan K3 adalah bagian dari peningkatan produksi, bukan beban biaya.
Penerapan K3 di lingkungan kerja smelter perlu diaudit atau diinvestigasi
segera guna memastikan efektivitas sistem keselamatan serta konfigurasi teknologi
tepercaya dan andal. Dengan begitu, kompetensi sumber daya manusia
tersertifikasi. Yang jadi pelajaran, kata Erwin, investasi smelter di Indonesia
mesti menerapkan standar K3 internasional yang terkualifikasi, agar tercipta
budaya K3 yang kuat di organisasi perusahaan, termasuk peningkatan pengelolaan
lingkungan hidup. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023