HARGA EMAS : PELUANG SETELAH PECAH REKOR
Lonjakan harga emas yang baru saja memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa masih mungkin berlanjut. Sempat redup dan melandai setelah pandemi, emas akhirnya berkilau. Sepanjang 2023, komoditas yang sudah eksis sejak 4.000 tahun sebelum Masehi ini kembali jadi salah satu aset hedgingpaling semriwing.Yang paling gres, harga emas di pasar spot menyentuh level US$2.077,49 per troy ouncepada penutupan perdagangan Rabu (27/12). Level ini menjadi rekor harga tertinggi sepanjang masa (all-time high) yang baru.Catatan ini juga sekaligus menjadi kali kedua emas membukukan all-time high di tahun ini. Catatan serupa sempat terjadi pada 1 Desember 2023, ketika harga emas di pasar spot mencapai US$2.072,22 per troyounce, memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang terekam di tengah pandemi, Agustus 2020. Bila diukur dari titik di awal tahun (year-to-date/ytd), banderol emas spot telah merefl eksikan tren penguatan 13,89% dari posisi US$1.824,02 per troy ounce. Sebagai konteks, per Rabu (27/12) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengukur kinerja seluruh saham di Indonesia dalam tren menguat 5,77% saja ytd. Sementara indeks LQ45 dan IDX30, masing-masing, dalam tren tumbuh 5,77% dan 3,36% ytd.Di sisi lain, indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami penguatan masing-masing 13,6% dan 24,53% ytd.Menariknya, pengamat dan pakar melihat titik puncak belum tercapai. Tidak sedikit yang percaya bahwa reli rekor harga emas akan kembali terulang dalam waktu dekat, dengan ekspektasi besar pada awal 2024. “Tak ada bukti yang lebih jelas dari ini, betapa emas sebagai instrumen lindung nilai makin diakui seiring peningkatan investor di seluruh dunia yang beralih ke aset ini di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik,” terang CEO LBMA Ruth Crowell dalam pernyataannya.
Skenario yang lebih mungkin adalah antara soft landingperekonomian (ditandai pertumbuhan ekonomi yang lebih landai), atau hard landingyang rawan mengakibatkan resesi.Dengan kemungkinan 45%—65% terjadi soft landingdan 25%—55% hard landing, LBMA pun meyakini harga emas bisa “secara signifi kan meningkat” pada tahun depan.
Di sisi lain John Hathaway, Manajer Portofolio Senior di Sport Asset Management USA, menyatakan bahwa semua skenario masih mungkin. Namun, dia punya dasar yang lebih konkret yang meyakini harga emas masih akan dalam tren tinggi untuk jangka pendek.Dilansir dari Euronews, Hathaway melihat ada indikasi terhadap komitmen The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunganya yang tinggi dalam waktu lama. Hal tersebut bisa memicu deflasi kredit lebih luas dan mempertinggi kemungkinan resesi. Efek domino yang muncul terhadap sektor perbankan dan pasar tenaga kerja pun membuat aset hedging seperti emas cenderung makin diminati.
Sebagaimana pengingat, The Fed masih memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 5,25%—5,5% pada FOMC Desember 2023.Sedangkan data PDB AS meningkat sebesar 4,9% secara tahunan pada kuartal terakhir, direvisi turun dari angka yang dilaporkan sebelumnya sebesar 5,2%.
Di dalam negeri, menurut analis komoditas Lukman Leong, Bank Indonesia (BI) hanya akan menurunkan suku bunga apabila tekanan dari dolar AS mereda.
Menurut versi Lukman, katalis lain yang mendorong harga emas yaitu dari permintaan fi sik bank sentral China. Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan perang juga merupakan insentif bagi harga komoditas tersebut.
Tags :
#EmasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023