;

PERIODE PENTING PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL

Lingkungan Hidup Hairul Rizal 30 Dec 2023 Bisnis Indonesia
PERIODE PENTING PENGELOLAAN ENERGI NASIONAL

Warsa 2023 menjadi salah satu periode penting bagi PT Pertamina (Persero) sebagai badan usaha milik negara atau BUMN holding energi. Beragam pijakan penting dilalui perseroan hingga mampu menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam Fortune Global 500 pada tahun ini. Mengawali tahun dengan mendistribusikan B35 atau biodiesel dengan kandungan bahan bakar nabati 35% pada awal Februari. Berbagai strategi pun dilaksanakan untuk memastikan kelancaran pelaksanaan mandatori tersebut.Kala itu, Pertamina melalui sub-holding commercial & trading PT Pertamina Patra Niaga langsung memperpendek jalur distribusi biodiesel dari produsen bahan bakar nabati (BBN) yang tadinya 112 terminal menjadi hanya 17 terminal se-Indonesia. Hal itu dilakukan agar pendistribusiannya menjadi lebih efisien.Selain itu, perusahaan juga menyiapkan kilang penampungan tambahan berkisar 50.000 kiloliter guna menampung bahan FAME sebagai campuran tambahan dalam memproduksi B35.Optimalisasi pemanfaatan BBN untuk mendukung transisi energi yang dilaksanakan pemerintah juga dilakukan Pertamina dengan menyajikan Pertamax Green 95 di Jakarta dan Surabaya, sejak Juli 2023. Tidak hanya lebih ramah lingkungan, Pertamax Green 95 juga memiliki kualitas yang lebih baik dengan research octane number (RON) 95. Di sektor penerbangan, tahun ini Pertamina juga menggandeng PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. untuk menggunakan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau Bioavtur dalam penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang menuju Bandara Adi Sumarmo di Surakarta, dan kembali ke Jakarta.Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Alfian Nasution mengatakan bahwa Pertamina memiliki komitmen untuk mendukung tercapainya target net zero emissionyang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia dengan mengembangkan roadmap aset dekarbonisasi dan pembangunan green business, termasuk SAF untuk sektor aviasi.“Penerbangan khusus ini akan menjadi tonggak sejarah di industri aviasi yang berkelanjutan. Masyarakat juga akan merasakan pengalaman baru, merasakan pemanfaatan energi terbarukan dan berkontribusi secara langsung pada penurunan emisi,” katanya. 

Upaya mengakselerasi transisi energi juga dilakukan Pertamina melalui subholding Power New and Renewable Energy atau Pertamina NRE yang berhasil meningkatkan kapasitas terpasang dari energi hijau, khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 48 megawattpeak (MWp).Kapasitas terpasang listrik bersih tersebut naik signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni 28,6 MWp. Perusahaan memprediksi penggunaan PLTS di internal perseroan, seperti yang dilakukan di Pertamina Hulu Rokan bisa menyentuh angka 500 MW secara bertahap.Dari panas bumi, perseroan melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. telah memiliki pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas 672 MW. Targetnya, dalam 2 tahun angka tersebut bakal menyentuh 1 gigawatt (GW). Sementara itu di hulu migas, Pertamina melalui Pertamina Hulu Energi Masela menggandeng Petronas Masela Sdn. Bhd. mengambil alih 35% kepemilikan Shell Upstream Overseas Services Limited di Blok Masela.Pengambilalihan participating interest tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengakselerasi pengelolaan wilayah kerja kaya gas yang sempat lama tertunda tersebut. Deputi Eksploitasi SKK Migas Wahju Wibowo mengatakan, Pertamina Hulu Rokan berhasil menahan penurunan produksi minyak di level 167.000 barel setara minyak per hari (bopd), sedangkan produksi minyak dari Blok Cepu susut ke level 140.000 bopd. “[Juara 1] Rokan, Cepu sudah turun. [Produksi] Rokan sekitar 167.000 bopd, sedangkan Cepu kan 140.000 bopd,” katanya saat ditemui barubaru ini. Pertamina Hulu Energi juga berperan dalam pengembangan teknologi carbon capture utilization and storage (CCUS) di Indonesia melalui injeksi perdana CO2 di Lapangan Jatibarang di Jawa Barat, dan Lapangan Sukowati di Jawa Timur.Keandalan kinerja hulu perusahaan juga disertai dengan moncernya sektor midstream. Refinery Development Masterplan Program (RDMP) yang dijalankan oleh subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional berhasil mencatatkan progress positif. Hingga akhir Oktober 2023, Pertamina sebagai BUMN juga tercatat telah berkontribusi sebanyak Rp255,51 triliun terhadap penerimaan negara, terdiri atas pajak, dividen, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta signature bonus.“Sepanjang 2023, Pertamina melakukan berbagai inovasi bisnis, meningkatkan produksi migas di dalam negeri dan luar negeri, sebagai upaya kami untuk menambah produksi migas bagi Indonesia, menumbuhkan ekosistem energi transisi, serta mengembangkan partnership dengan berbagai mitra bisnis yang kredibel,” kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Tags :
#Energi
Download Aplikasi Labirin :