Perluasan Pasar Diperlukan
Kinerja ekspor Indonesia diprediksi menurun pada 2024 karena
faktor perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas. Untuk
menyiasatinya, Indonesia bisa memperluas kerja sama dengan negara-negara lain
dan memaksimalkan potensi produk ekspor. Data BPS menunjukkan, nilai ekspor Januari-November
2023 sebesar 236,41 miliar USD. Nilai itu menurun 11,83 % dibanding dengan
kinerja periode sama 2022 di 268,12 miliar USD. Pada periode yang sama, nilai
impor juga terkontraksi 6,80 %. Nilai neraca perdagangan pun turun meski tetap
mencatat surplus sebesar 33,63 miliar USD. ”Ini karena kondisi perekonomian
memburuk. Permintaan pasar berkurang, harga ikut turun. Tahun depan diprediksi tidak
berbeda meski neraca perdagangan tetap (diprediksi) akan surplus,” tutur Dirjen
Perdagangan Luar Negeri Kemendag Budi Santoso dalam konferensi daring ”Export
Outlook 2024: Menjadikan Indonesia Eksportir Utama Dunia”, Selasa (27/12).
Budi menyoroti beberapa kelompok produk ekspor mengalami
kontraksi setahun terakhir ini, di antaranya karet dan produk karet yang antara
Januari dan Oktober mengalami penurunan tahunan 23,60 %. Kemudian, sawit turun
17,52 %, tekstil dan produk tekstil turun 16,19 %, serta elektronik 4,59 %.
Kondisi perekonomian global menjadi penyebab melemahnya daya beli yang
menurunkan permintaan ekspor barang. Organisasi untuk Kerja Sama dan
Pembangunan Ekonomi (OECD), misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi global
pada 2023 hanya 2,9 % dan pada 2024 turun menjadi 2,7 %. Ketua Umum Gabungan
Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, Perang di
wilayah Timur Tengah membuat pendistribusi
barang dari Indonesia menuju wilayah Eropa tak berani melalui Terusan Suez. ”Namun,
kita bisa alihkan ekspor ke Afrika sehingga distribusi barang tidak perlu melalui
Terusan Suez,” katanya. Apalagi Afrika, yang dihuni hampir 2 miliar penduduk,
juga menjadi pasar produk ekspor yang bagus. Benny pun menyebut beberapa produk
jadi dalam negeri yang sukses diterima pangsa pasar Afrika, seperti produk mi
instan, sabun colek, dan obat-obatan tanpa resep dokter. Selain Afrika, pasar
Timur Tengah juga dinilai punya potensi ekspor besar. (Yoga)
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023