;

Akal Jitu ”Emak-emak” Hadapi Kenaikan Harga Pangan

Lingkungan Hidup Yoga 28 Dec 2023 Kompas
Akal Jitu ”Emak-emak” Hadapi Kenaikan Harga Pangan

Lonjakan harga pangan membuat ”emak-emak” kalang kabut. Mereka harus mengeluarkan sejuta akal demi mengatur keuangan, mulai dari berburu promo diskon, membatasi uang belanja, hingga menakar kebutuhan sambal. Riana (34) tersenyum kecut saat berbelanja di Pasar Kebayoran Lama, Jaksel, Selasa (26/12) siang, uang Rp 100.000 di dompetnya belum cukup membeli semua daftar kebutuhannya. Ia hanya membeli satu ayam potong, setengah kg telur ayam, setengah kg bawang merah dan bawang putih, serta seperempat cabai. Beberapa sayuran yang ia beli pun hanya setengah porsi biasanya. Sisa uangnya Rp 50.000 juga digunakan membeli tempe dan bumbu masak lainnya. ”Uang belanja sayur, lauk, dan kebutuhan dapur saya patok Rp 150.000 per minggu. Kalau tidak begitu, bisa lebih besar pasak daripada tiang,” ucap Riana menganalogikan biaya hidup yang semakin membengkak.

Data infopangan.jakarta.go.id per Selasa (26/12) mencatat kenaikan harga cabai rawit merah, cabai merah besar, hingga bawang merah di sejumlah pasar. Harga cabai merah keriting, naik Rp 4.000 menjadi Rp 44.000 per kg dibandingkan sehari sebelumnya. Harga beras medium mencapai Rp 13.000 per kg atau di atas HET, Rp 10.900 per kg. Di tengah lonjakan harga pangan itu, Riana mengaku tak mudah mengatur uang belanja. Hampir separuh gaji suaminya sudah terpakai untuk membayar kontrakan, tagihan listrik, pulsa, dan internet. Ia harus pintar-pintar mengatur agar kebutuhan bulanan keluarga tak lebih dariRp 2 juta, agar dia masih bisa menabung minimal Rp 100.000 setiap bulan.

Ia tak hanya berbelanja ke pasar tradisional, tetapi juga supermarket demi berburu diskon membeli minyak goreng, gula pasir, detergen, tisu, dan makanan ringan. Riana juga mengejar hadiah jika membeli produk tertentu. Tidak hanya konsumen, pedagang makanan pun harus berhemat. Solikhah (35), pemilik warung makan Magelang di Pasar Kramat Jati, Jakarta, mengaku kerepotan akibat ”pedasnya” harga cabai. ”Naiknya harga cabai 2 bulan lalu membuat saya harus mengurangi porsi membuat sambal. Jika biasanya buat sam bal pakai cabai 1 kg, sekarang hanya setengahnya,” katanya. Porsi sambal kepada pembeli pun berkurang. ”Jika dahulu setiap porsi makan bisa 1-2 sendok makan berisi sambal, saat ini paling hanya dua sendok teh. Kalau mau nambah, ya, harga makanannya dinaikkan,” kata Solikhah. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :