JALAN LAPANG ALIRAN DANA ASING
Momentum tahun depan memberikan jalan lapang bagi aliran dana asing ke pasar keuangan di Tanah Air tersulut luruhnya sentimen suku bunga mahal yang membatasi gerak investor asing mengalirkan modal ke aset berisiko di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Instrumen seperti surat utang dan saham bakal mendulang cuan lebih banyak. Merujuk pada kinerja sepanjang tahun ini, dana investor asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) menembus Rp77,73 triliun. Sementara itu, pasar saham masih mencetak aksi jual bersih sebesar Rp9,38 triliun. Menariknya, secara umum, kinerja pasar surat utang lebih unggul dibandingkan dengan pasar saham bahkan bila dibandingkan dengan beberapa nengara Asia. Premi risiko Indonesia pun berada di level rendah yang tecermin dari credit default swap (CDS) RI 5 tahun yang berada pada kisaran 70. Kepala Divisi Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan terdapat beberapa faktor yang akan membuat dana investor asing masuk ke Indonesia. Pertama, Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan menurunkan suku bunga yang akan diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dan indeks dolar AS (DXY Index). Turunnya indeks dolar AS meredam kemungkinan pelemahan rupiah di hadapan greenback. Kondisi tersebut, katanya, mendorong potensi keuntungan nilai tukar. Kedua, Indonesia berada dalam jalur yang tepat untuk menaikkan rating ke BBB+ (triple B plus) tahun depan. Ketiga, aliran dana asing sepanjang 2023 hampir Rp80 triliun yang masih belum menggantikan porsi sebelum pandemi Covid-19. Dihubungi terpisah, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi menjelaskan investor asing di Surat Utang Negara (SUN) mementingkan faktor stabilitas makroekonomi dan akan membandingkan imbal hasil Indonesia dengan safe haven seperti AS. Sementara itu, investor saham asing lebih menitikberatkan pada prospek pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada laba perusahaan. Sementara itu, Schroders Indonesia, manajer investasi asal Inggris dalam laporan terbarunya menggarisbawahi sejumlah poin penting pada 2024. Sentimen positif berasal dari kelanjutan sikap The Fed yang melunak dengan peluang pelonggaran moneter, pertumbuhan ekonomi China yang lebih kencang, prospek harga komoditas termasuk logam, dan kinerja moncer emiten pada 2024. Sentimen yang perlu diwaspadai yakni likuiditas domestik ketat yang bisa menghambat pertumbuhan. Menariknya, penyelenggaraan Pemilu menjadi faktor yang perlu diperhatikan meskipun memicu konsumsi lebih tinggi. Dari sisi pasar saham, perusahaan menilai valuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) menarik dengan perkiraan pertumbuhan laba per saham (earning per share/EPS) pada 2024 mencapai 11%-12%. Dari situ, perusahaan menuturkan bahwa sektor seperti perbankan yang dipimpin oleh bank jumbo mampu memberikan laba tebal. Head of Research & Advisory Bank Commonwealth Thadly Chandra menyebutkan Pemilu akan memberi dampak positif pada aktivitas ekonomi dan likuiditas di pasar keuangan. Dengan demikian, baik pasar surat utang dan saham bakal menikmati manfaat hajatan 5 tahun sekali ini.
Postingan Terkait
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Pasar Dalam Tekanan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023