PERPANJANGAN IZIN PERTAMBANGAN : ‘BOLA PANAS’ DIVESTASI INCO
Proses divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) terus bergulir menjadi ‘bola panas’, meski sudah ada head of agreement mengenai proses tersebut, dan ditargetkan bisa rampung pada tahun depan.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendesak agar PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID sebagai pihak yang akan melakukan akuisisi 14% saham INCO mendapatkan harga yang lebih murah.Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah bakal mengambil sebagian konsesi perusahaan, apabila INCO tetap mematok harga yang dinilai kemahalan untuk proses divestasi tersebut. Terlebih, proses divestasi itu juga merupakan salah satu syarat agar perusahaan mendapatkan perpanjangan izin untuk bisa terus beroperasi di Indonesia.“Masalah valuasi [saham INCO] saya bertahan, dan kalau angkanya tidak ketemu, maka direlinquish saja, toh ada beberapa yang tidak perform dari Vale Indonesia,” katanya, Rabu (13/12).
Hanya saja, lewat pengajuan perpanjangan menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK), INCO mengganti komitmen tersebut menjadi pembangunan pabrik high pressure acid leaching (HPAL) kapasitas produksi kurang lebih 60.000 mixed hydroxide precipitate (MHP).Pergeseran fokus investasi pada proyek Sorowako itu sudah disampaikan INCO kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sebagai tahapan konversi KK INCO menjadi IUPK. Arifin pun menyetujui proposal tersebut melalui pengesahan rencana pengembangan seluruh wilayah (RPSW) pada 10 April 2023.INCO juga diketahui telah resmi mengajukan permohonan IUPK ke Kementerian ESDM pada 17 April 2023.
Proses divestasi 14% saham INCO kepada MIND ID sendiri sebenarnya ditargetkan rampung pada 2024 bergantung kepada kondisi penutupan yang lazim. Setelah itu, MIND ID akan menjadi pengendali INCO dengan kepemilikan saham 34%.Adapun, Vale Canada Limited selaku anak usaha Vale Base Metals Limited akan menggenggam sekitar 33,9% saham INCO, sedangkan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd mengempit 11,5% saham perusahaan. Sementara itu, Menteri ESDM Arifin tasrif memastikan MIND ID bakal memiliki kendali yang kuat dalam struktur baru INCO setelah proses divestasi rampung.
Dalam kesempatan terpisah, INCO berencana untuk mempertahankan jumlah produksi nikelnya sebesar 70.800 ton nikel matte pada tahun depan.Chief Financial Offi cer Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, untuk produksi nikel pada 2024, perseroan akan tetap mempertahankan jumlah produksi setara dengan tahun ini. Penyebab utama mandeknya produksi nikel INCO adalah pemeliharaan alat produksi yang memakan waktu lama.
Bernardus menambahkan, alasan kedua adalah perusahaan akan berupaya mempertahankan kualitas nikel yang diproduksi. Dengan begitu, target tahun depan ditetapkan tidak jauh berbeda dengan hasil 2023.Menurutnya, pemeliharaan alat adalah salah satu kunci perseroan bisa tetap menjaga kualitas dan efi siensi produksi. Pasalnya dengan alat-alat produksi yang mumpuni.
Tags :
#PertambanganPostingan Terkait
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023