;

Kelas Menengah Butuh Perhatian Sebelum Terlambat

Ekonomi Yoga 09 Dec 2023 Kompas
Kelas Menengah Butuh Perhatian Sebelum Terlambat

Jumlah kelas menengah di Indonesia terus meningkat. Namun, status ekonomi yang tanggung alias tidak miskin, tetapi tidak kaya membuat mereka nyaris terabaikan dan rentan kembali jatuh miskin.  Pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan kelompok ini akan ekonomi yang lebih berkualitas sebelum keresahan sosial memuncak. Menurut Laporan Bank Dunia ”Aspiring Indonesia:Expanding the Middle Class”, kelas menengah di Indonesia tumbuh 10 % setiap tahun selama periode 2002-2016. Bank Dunia mengidentifikasi kelas menengah di Indonesia sebagai orang yang pengeluarannya Rp 1,2 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Jumlah kelas menengah RI per tahun 2020 diperkirakan ada 52 juta orang atau 19 % dari total populasi. Sebagian besar adalah kelas menengah-bawah. Ada pula kelompok calon kelas menengah (aspiring middle class) alias sudah lepas dari jerat kemiskinan,tetapi belum seaman kelas menengah. Jumlahnya 115 juta orang atau 45 % dari total populasi.

Mantan Menkeu Chatib Basri mengatakan, jumlah kelas menengah RI akan terus naik seiring naiknya pendapatan per kapita nasional. ”Ada gejala middle class semakin naik pesat. Apalagi, tahun 2045 nanti saat Indonesia ditargetkan jadi negara maju,” katanya dalam Regional Chief Economist Forum di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/12). Kelas menengah adalah masyarakat yang sudah tidak lagi hidup di bawah garis kemiskinan,tetapi masih rentan jatuh miskin jika sewaktu-waktu terjadi guncangan. Pandemi Covid-19 adalah masa-masa di mana banyak kelas menengah kembali miskin karena kehilangan mata pencarian, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan penghasilannya dipotong. Chatib mengatakan, meski rentan, kelompok ini tidak tersentuh program perlindungan sosial (perlinsos) yang saat ini lebih difokuskan bagi mereka yang miskin dan masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :