Ekonomi dan Krisis Demokrasi
Tahun depan, sekitar 2 miliar orang atau hampir separuh
penghuni dunia akan mengikuti proses pemilihan umum (pemilu) yang tersebar di
76 negara. Momen ini seharusnya menjadi pesta demokrasi terbesar dalam sejarah
manusia. Namun, faktanya, banyak cacat dalam pelaksanaannya. Meski prosedur
dijalankan, terjadi berbagai manipulasi dan tekanan sehingga kualitas demokrasi
tak terjaga (flawed democracy). Begitu prediksi The World Ahead 2024 terbitan
majalah The Economist. Indonesia, bersama AS dan India, akan menjadi negara
dengan peserta pemilu terbesar di dunia. Penduduk India 1,4 miliar jiwa, AS 342
juta jiwa, dan Indonesia 280 juta jiwa. Di Indonesia, Presiden Jokowi dengan
tingkat kepuasan rakyat 80 % menjadi faktor yang bisa ikut menentukan presiden
berikutnya: siapa pun yang didukungnya punya peluang menang. Sementara itu, berbagai
kelompok masyarakat sipil dan pencinta demokrasi tengah menyuarakan gerakan
pemilu jujur dan adil agar demokrasi tidak cacat.
Pemilu 2024 menjadi salah satu pertaruhan besar bagi masa
depan bangsa, termasuk kelangsungan proyek pembangunan yang sudah dilaksanakan
sepanjang sembilan tahun terakhir. Martin Wolf, kolumnis terkemuka Financial
Times, menulis buku berjudul The Crisis of Democratic Capitalism (2023) yang menggambarkan
kemunduran demokrasi seiring meredupnya kapitalisme. Masa jaya demokrasi di
tengah kebebasan berekspresi dan sistem ekonomi terbuka tengah surut, diikuti meningkatnya
pemerintahan otoriter di banyak negara di dunia. China telah berhasil
mengembangkan perekonomian berbasis pasar bebas tanpa menerapkan demokrasi.
Ketika perekonomian mengalami stagnasi pascapandemi Covid-19, peran pengusaha
sangat terbatas dalam menggerakkan ekonomi.
AS sebagai salah satu penganjur utama rezim pasar bebas telah
berputar haluan sejak pemerintahan Trump. Mereka mendahulukan kepentingan
domestik dan menarik diri dari percaturan global. Sejak pandemi Covid-19,
kebijakan industrinya banyak dimotori pemerintah, tak lagi mengandalkan
kekuatan sektor swasta (pasar). Di Indonesia, sejak Presiden Jokowi dilantik
pada 2014, pembangunan infrastruktur dibangun secara progresif dengan
mengandalkan perusahaan BUMN sebagai pelaksana proyek. Anggaran infrastruktur naik
drastis, dari Rp 154 triliun pada 2014 menjadi Rp 256 triliun pada 2015.
Alokasinya terus naik hingga mencapai puncaknya pada 2020 senilai Rp 420
triliun. Bangsa Indonesia sangat beruntung memiliki presiden yang visioner dan
berani mengambil risiko melakukan pembangunan (infrastruktur) yang mendukung
proses hilirisasi serta pembangunan ekosistem industri mobil listrik. Meski mendapat
tentangan dari banyak negara maju dan lembaga multilateral, kebijakan ini tetap
dijalankan secara konsisten sebagai bagian dari upaya menjadi negara maju pada
Indonesia Emas 2045. Meski demikian, jika berbagai kebijakan ini kemudian dijadikan
dalih bagi proses politik yang tidak demokratis, justru muncul risiko besar
terhadap keberlangsungan pembangunan itu sendiri. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023