Mencari Celah dari Pelemahan Rupiah
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tak sepenuhnya berdampak buruk. Meski berpotensi menimbulkan pembengkakan anggaran belanja, kondisi ini juga berpotensi menjadi sumber peningkatan pemasukan bagi sejumlah sektor usaha ataupun penerimaan negara. Di sektor minyak dan gas, misalnya, pelemahan rupiah justru berpotensi meningkatkan keuntungan perusahaan. Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas) Moshe Riza mengatakan hal itu terjadi karena kegiatan jual-beli di sektor hulu migas banyak mengacu pada dolar Amerika.
Potensi tambahan keuntungan itu, kata Moshe, dapat dirasakan perusahaan migas dalam negeri yang pendapatannya dibukukan dalam rupiah, seperti Pertamina. "Sedangkan untuk kontraktor kontrak kerja sama asing, tidak begitu berpengaruh," ucapnya kemarin. Tren penguatan dolar terhadap rupiah sebenarnya terjadi sejak Mei 2023. Kala itu kurs rupiah berada di kisaran 14.700 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terus melemah dengan titik terburuk terjadi pada awal pekan ini, dengan kurs menembus level 15.900 per dolar AS. Padahal, pada awal Oktober 2023, kurs rupiah masih berada di kisaran 15.400 per dolar AS. Adapun hingga September 2023, depresiasi rupiah mencapai 3,7 persen. (Yetede)
Tags :
#RupiahPostingan Terkait
Ketahanan Investasi di Sektor Hulu Migas
30 Jun 2025
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
30 Jun 2025
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
26 Jun 2025
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
24 Jun 2025
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
23 Jun 2025
Pasar Dalam Tekanan
23 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023