Biaya Investasi Infrastruktur Meningkat 6%
18 Oct 2023
Kontan
Perubahan iklim bukan hanya berdampak terhadap ketahanan pangan, tetapi juga merembet ke biaya investasi infrastruktur. Alhasil, pembiayaan infrastruktur di Indonesia berisiko membengkak. Berdasarkan simulasi Bank Pembangunan Asia (ADB), perubahan iklim mendorong kenaikan kebutuhan investasi infrastruktur di Indonesia hingga 6%. Hal ini sejalan dengan adanya kenaikan kebutuhan energi dan air bersih yang tinggi. Adapun perhitungan baseline, estimasi kebutuhan investasi infrastruktur Indonesia mencapai sekitar US$ 70 miliar. Kemudian, dengan perubahan iklim, estimasi kebutuhan investasi Indonesia akan meningkat 5,7% menjadi sekitar US$ 74 miliar. Berdasarkan perhitungan ADB pula, apabila ada perubahan iklim, kebutuhan investasi infrastruktur India mencapai US$ 261 miliar, naik 13% dari baseline US$ 753 miliar. Sedangkan kebutuhan China adalah sebesar US$ 837 miliar atau naik sekitar 11% dari baseline yang sebesar US$ 753 miliar. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky mengemukakan, untuk menanggulangi pembiayaan yang berpotensi membengkak, ia mengimbau pemerintah untuk lebih getol dalam menarik investasi mulai saat ini. "Seperti pensiun dini PLTU, memberi insentif kendaraan listrik, sudah mengeluarkan kebijakan perdagangan karbon meski volumenya belum terlalu besar," ungkap dia. Melalui langkah itu, Riefky optimistis kebutuhan investasi infrastruktur akan cukup sehingga pembangunan berkelanjutan akan terjadi.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023