;

Siasat Terakhir Peladang Dayak Hadapi Gagal Panen

Ekonomi Yoga 24 Sep 2023 Kompas
Siasat Terakhir Peladang
Dayak Hadapi Gagal Panen

Untuk kesekian kalinya, Ardianto (46), petani di Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, tidak bisa menikmati panen di sawah seluas dua hektar yang dikelolanya. Ia lagi-lagi gagal panen. Ardianto adalah satu dari banyak petani di Pulang Pisau yang mengikuti program lahan perluasan baru lumbung pangan atau food estate Kalteng. Ia harus belajar cara dan metode pertanian yang berbeda dengan yang dilakoni selama ini. Sebagai orang Dayak Ngaju, Ardianto hidup berladang. Ia membersihkan ladang dengan memotong kayu yang tumbuh di lading, lalu dibakar sampai menjadi abu. Ladang dibiarkan sehari sebelum ditanami. Keesokan harinya, peladang melubangi tanah yang bercampur abu dengan  kayu atau manugal dalam masyarakat Dayak Ngaju. Dalam satu petak, peladang bisa menanam berbagai jenis padi lokal. Di sela-sela padi, mereka menanam beragam sayuran. Sistem tanam itu terbukti menghasilkan panen yang baik. Ardianto, misalnya, bisa memanen 2-3 ton per sekali tanam selama 6 bulan. Situasi itu berubah ketika program food estate diterapkan pada 2021. Ardianto dan peladang lainnya diminta berganti cara tanam. Dia terpaksa menerima program itu. Peladang menilai program itu sebagai jalan keluar dari kebijakan larangan membakar lahan untuk membuka ladang, tahun 2015. Dengan mengikuti food estate, Ardianto dan keluarga dapat kembali beraktivitas di ladang. ”Namanya juga masih coba-coba. Orang bilang, sawah ini bisa berhasil setelah 7-10 kali masa tanam,” ujarnya.

Pengolahan lahan dalam food estate menggunakan alat berat untuk meratakan tanah dan mengubah ladang menjadi sawah. Sawah juga harus dibajak untuk menggemburkan tanah. Benih padi juga tidak langsung dimasukkan ke lubang, tetapi disemaikan dulu di rumah sebelum ditanam di sawah. Hal lain yang harus dipelajari ialah pengelolaan air. Karena tidak ada saluran irigasi, sawah mereka menggunakan air dari Sungai Kahayan. Untuk memastikan air mencukupi, peladang harus memperhatikan pasang surut sungai. Aksesibilitas menuju sawah juga menjadi persoalan. Untuk bisa ke sawah, Ardianto harus menggunakan kelotok atau perahu kayu bermesin, 20-25 menit dari rumah ke sawah. Segala hal baru ini menjadi tantangan bagi peladang. Tidak heran, mereka berkali-kali gagal panen. Gagal panen berkali-kali ini tidak pernah dialami ketika ia berladang. ”Tapi nanti dimarahi kalau kami membakar (berladang tradisional),” kata Mariana (41), istri Ardianto. Ironisnya, saat panen tidak kunjung memberi bahagia, justru tradisi lama yang menyelamatkan. Ardianto dan Mariana menanam singkong, cabai rawit, hingga tomat di pematang sawah. Ada juga sayur khas Dayak, seperti kelakai (Stenochlaena palustris) dan rimbang (Solanum torvum). Selain padi, mereka menanam sayur, buah, hingga membuat kolam ikan, di lahannya. Ada pula cabai rawit, singkong, dan tomat, pisang, dan semangka untuk dijual. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :