Siasat Terakhir Peladang Dayak Hadapi Gagal Panen
Untuk kesekian kalinya, Ardianto (46), petani di Desa
Pilang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, tidak bisa menikmati panen di sawah
seluas dua hektar yang dikelolanya. Ia lagi-lagi gagal panen. Ardianto adalah
satu dari banyak petani di Pulang Pisau yang mengikuti program lahan perluasan
baru lumbung pangan atau food estate Kalteng. Ia harus belajar cara dan metode
pertanian yang berbeda dengan yang dilakoni selama ini. Sebagai orang Dayak
Ngaju, Ardianto hidup berladang. Ia membersihkan ladang dengan memotong kayu yang
tumbuh di lading, lalu dibakar sampai menjadi abu. Ladang dibiarkan sehari
sebelum ditanami. Keesokan harinya, peladang melubangi tanah yang bercampur abu
dengan kayu atau manugal dalam masyarakat
Dayak Ngaju. Dalam satu petak, peladang bisa menanam berbagai jenis padi lokal.
Di sela-sela padi, mereka menanam beragam sayuran. Sistem tanam itu terbukti
menghasilkan panen yang baik. Ardianto, misalnya, bisa memanen 2-3 ton per sekali
tanam selama 6 bulan. Situasi itu berubah ketika program food estate diterapkan
pada 2021. Ardianto dan peladang lainnya diminta berganti cara tanam. Dia terpaksa
menerima program itu. Peladang menilai program itu sebagai jalan keluar dari kebijakan
larangan membakar lahan untuk membuka ladang, tahun 2015. Dengan mengikuti food
estate, Ardianto dan keluarga dapat kembali beraktivitas di ladang. ”Namanya
juga masih coba-coba. Orang bilang, sawah ini bisa berhasil setelah 7-10 kali masa
tanam,” ujarnya.
Pengolahan lahan dalam food estate menggunakan alat berat
untuk meratakan tanah dan mengubah ladang menjadi sawah. Sawah juga harus
dibajak untuk menggemburkan tanah. Benih padi juga tidak langsung dimasukkan ke
lubang, tetapi disemaikan dulu di rumah sebelum ditanam di sawah. Hal lain yang
harus dipelajari ialah pengelolaan air. Karena tidak ada saluran irigasi, sawah
mereka menggunakan air dari Sungai Kahayan. Untuk memastikan air mencukupi,
peladang harus memperhatikan pasang surut sungai. Aksesibilitas menuju sawah juga
menjadi persoalan. Untuk bisa ke sawah, Ardianto harus menggunakan kelotok atau
perahu kayu bermesin, 20-25 menit dari rumah ke sawah. Segala hal baru ini
menjadi tantangan bagi peladang. Tidak heran, mereka berkali-kali gagal panen. Gagal
panen berkali-kali ini tidak pernah dialami ketika ia berladang. ”Tapi nanti
dimarahi kalau kami membakar (berladang tradisional),” kata Mariana (41), istri
Ardianto. Ironisnya, saat panen tidak kunjung memberi bahagia, justru tradisi
lama yang menyelamatkan. Ardianto dan Mariana menanam singkong, cabai rawit,
hingga tomat di pematang sawah. Ada juga sayur khas Dayak, seperti kelakai
(Stenochlaena palustris) dan rimbang (Solanum torvum). Selain padi, mereka
menanam sayur, buah, hingga membuat kolam ikan, di lahannya. Ada pula cabai
rawit, singkong, dan tomat, pisang, dan semangka untuk dijual. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023