;

Waswas dengan Kenaikan Harga Beras

Lingkungan Hidup Yoga 22 Aug 2023 Kompas
Waswas dengan
Kenaikan Harga Beras

Kios beras milik Francis Ndege di Pasar Toi, Nairobi, Kenya, beberapa waktu terakhir ini  tidak terlalu ramai dikunjungi pembeli setelah harga beras naik. Kenaikan harga beras, antara lain, dipicu keputusan India menutup keran ekspor berasnya. Dengan harga saat ini, Ndege tak yakin, apakah pelanggannya, yang sebagian besar tinggal di perkampungan kumuh Kimera, Nairobi, masih mampu membeli beras darinya. Harga beras di Kenya melonjak beberapa waktu terakhir. Petani setempat tak mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri karena harga pupuk yang meroket dan kekeringan yang melanda negara itu. Produksi beras pun terganggu.

Beras murah dari India biasanya mengisi ceruk kosong stok beras yang tak bisa dipenuhi petani dalam negeri. Hal ini membuat warga miskin dan kelompok rentan berpenghasilan 2 USD (Rp 30.600) bisa bertahan hidup. Namun, dengan harga beras yang naik 20 % sejak Juni lalu, semuanya jadi sulit dan sejak itu pula, pedagang beras seperti Ndege belum menerima pasokan stok baru. Situasi semakin sulit setelah India menghentikan sementara ekspor berasnya mulai pekan ketiga bulan Juli lalu. New Delhi beralasan, pelarangan ekspor beras non-Basmati itu untuk meredam kenaikan harga di pasar domestik. Keputusan India itu berdampak luas. Penghentian ekspor mereka membuat kekosongan 9,5 juta metrik ton beras di level global, setara seperlima total ekspor beras global. Ini menjadi tekanan baru bagi ketersediaan pangan global, terutama bagi negara-negara Afrika. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :