RANTAI PASOKAN : KADIN PREDIKSI LOGISTIK TUMBUH 6%
Kamar Dagang dan Industri Indonesia memproyeksikan industri logistik nasional tetap tumbuh di atas 6% secara tahunan, ditopang pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Tanah Air.
Ketua Badan Logistik dan Rantai Pasok Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Akbar Djohan mengatakan sektor transportasi dan pergudangan selama kuartal I/2023 tumbuh 15,93% year-on-year (YoY). Menurutnya, pencapaian itu membuktikan sektor transportasi dan pergudangan yang merepresentasikan industri logistik menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Akbar menjelaskan sektor transportasi dan pergudangan Indonesia mengalami kemajuan pesat selama 2 tahun terakhir didukung oleh pesatnya perkembangan ekonomi digital termasuk e-commerce. “Potensi ini ditunjang oleh pasar e-commerce yang masih bertumbuh serta mulai normalnya aktivitas masyarakat pascapencabutan status pandemi Covid-19,” katanya dalam Konferensi Pers dan Launching Transport Logistic Southeast Asia di Jakarta, Kamis (20/7).Selain tumbuh positif, industri logistik Indonesia juga menghadapi tantangan biaya logistik yang tinggi dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Data yang dihimpun menunjukkan biaya logistik mencapai 23% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurutnya, pembenahan tata kelola logistik membutuhkan sinergi antarpelaku industri dan pemangku kepentingan. Hal ini mencakup mulai dari pelaku rantai pasok, transportasi dan logistik, serta kementerian terkait. “Sinergi dibutuhkan terutama dalam mendorong simplifi kasi kerja sistem rantai pasok nasional dengan menerapkan digitalisasi layanan,” katanya. Akbar melanjutkan Kadin juga mengapresiasi upaya pemerintah yang mulai mengembangkan digitalisasi layanan di sektor logistik dalam Ekosistem Logistik Nasional atau National Logistic Ecosystem (NLE).
Akbar menilai beberapa indikator yang menjadi kriteria penilaian kinerja LPI kurang tepat jika diaplikasikan secara merata pada seluruh negara.Dia mencontohkan penilaian pada aspek international shipment Singapura tidak dapat disamakan dengan Indonesia. Hal itu mengingat status kedua negara yang berbeda pada rantai logistik internasional.
Sementara itu, Kepala Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan Agus Rofi udun berpendapat tingginya biaya logistik di Indonesia merupakan masalah yang mencakup seluruh aspek mulai dari pelabuhan atau hulu hingga ke gudang atau hilir.Saat ini, biaya logistik di Indonesia mencapai 23,5% dari PDB nasional atau lebih tinggi dibandingkan dengan Thailand yang memiliki biaya logistik 15% dari PDB atau Malaysia sebesar 13% dari PDB.
Tags :
#Industri lainnyaPostingan Terkait
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023