MENJELANG EL NINO : JURUS BERKELIT DARI ANCAMAN DEFISIT BERAS
Rencana pemerintah mendongkrak produksi beras nasional sudah waktunya dieksekusi secepatnya, seiring dengan fenomena El Nino yang akan memangkas produktivitas pangan. Tidak ada rasa khawatir yang melebihi kekhawatiran kekurangan beras. Hal itu terungkap dalam Rapat Terbatas di Komplek Istana Kepresiden Jakarta pada Senin (10/7). Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menginstruksikan Kementerian Pertanian untuk menggenjot produksi beras. Ancaman El Nino pada tahun ini dianggap nyata sehingga perlu kerja keras guna mencegah krisis pangan di Tanah Air. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menceritakan bahwa Presiden telah memberikan peringatan kepada bawahannya untuk menggenjot produksi beras guna menjaga ketersediaan pangan di dalam negeri. “Jelas, pak Mentan diminta menggenjot produksi ,” ujarnya di Istana Kepresidenan. Penanaman padi, lanjutnya, harus dipercepat selagi masih ada hujan pada beberapa bulan terakhir menjelang El Nino yang diprediksi terjadi pada Agustus—September 2023. Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun Bisnis, produksi beras dalam negeri mulai menunjukkan penurunan dari puncak panen pada Maret 2023. Adapun, realisasi produksi beras pada Maret 2023 sebesar 5,12 juta ton, kemudian anjlok pada April menjadi 3,6 juta ton. Tren penurunan produksi beras masih berlanjut pada bulan berikutnya yaitu Mei 2023 menjadi sebesar 2,7 juta ton. Secara total, produksi beras sepanjang Januari—Mei 2023 sebanyak 15,68 juta ton, sedangkan konsumsi beras selama periode tersebut sebanyak 12,69 juta ton. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menengarai harga beras kualitas medium sedang naik, kendati tidak signifikan. Menyitir panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan rata-rata harga beras medium secara nasional sebesar Rp11.890 per kilogram. Harga tersebut melampaui harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp10.900 per kilogram.
Terkait dengan komoditas beras, Ketua Komunitas Industri Beras Rakyat (Kibar) Syaiful Bahari menyatakan Indonesia terancam defisit beras pada tahun ini. Dia memperkirakan produksi beras tahun ini bakal menyusut dari tahun lalu. Syaiful menyatakan produksi beras nasional tahun ini hanya sebesar 24,15 juta ton, sementara angka konsumsi diperkirakan mencapai 31 juta ton. “Kita akan mengalami defisit beras sekitar 6,85 juta ton,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (11/7). Syaiful memperkirakan produksi gabah kering giling (GKG) pada musim tanam II yang berlangsung selama Mei hingga Agustus 2023 sebanyak 14,7 juta ton atau setara dengan beras sekitar 7,35 juta ton. Selain disebabkan ancaman El Nino, penurunan beras disinyalir turut dipicu oleh faktor produksi lainnya. Faktor itu seperti keterbatasan akses petani terhadap pupuk dan bibit yang berkualitas. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Yusuf Wibisono mengatakan bahwa produksi beras nasional menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Alasannya, produksi beras cenderung stagnan terjadi sejak 2018.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023